Danau Tondano : Destinasi Wisata Yang Melegenda di Sulawesi Utara

0 84

Danau Tondano

Danau Tondano merupakan salah satu tempat wisata danau yang terluas di Provinsi Sulawesi Utara meski tidak termasuk sepuluh besar dari danau terbesar yang ada di Indonesia. Kendati demikian, ekosistem danau yang masih bagus dan letaknya yang diapit oleh berbagai pegunungan, membuat Danau Tondano menjadi salah satu tujuan wisata Danau yang sangat layak untuk dikunjungi atau mungkin salah satu tujuan yang wajib untuk dikunjungi ketika berkunjung ke Sulawesi Utara.

Danau dengan luas 4.278ha/42,78km³ berada di antara pegunungan Lembean, Gunung Kaweng, Bukit Tampusu, dan Gunung Masarang. Banyak mitologi yang meliputi sejarah bagaimana danau ini terjadi, dari beragam cerita rakyat yang unik hingga sejarah oral dari masyarakat yang tinggal di sekitar Danau Tondano.

Konon, Danau Tondano berasal dari kata minahasa Tou yang artinya suku/sekumpulan manusia, yang pada sejarah minahasa kuno Tou selalu diasosiasikan sebagai suku atau sekumpulan manusia, karena bila kita menerjemahkan arti dari Si Tou Timou Tumou Tou” (Bahasa Minahasa: “Manusia hidup untuk menghidupi/mendidik/menjadi berkat orang lain) maka penggunaan kata Tou menjadi kurang memadai bila sekadar diartikan sebagai suku. Namun untuk menyederhanakannya, nama Tondano berasal dari penggabungan kata Tou (yang kali ini bisa disebut suku atau warga) dan dano yang berarti air. Sehingga Tondano bisa diartikan menjadi ‘suku/warga air’.

Sejarah Danau Tondano

Bila di Jawa kita mengenal sejarah mengenai Perang Jawa yang dikobarkan oleh Pangeran Diponegoro melawan kolonialisme Belanda, Tondano dan Danaunya juga memiliki cerita yang serupa dan sering disebut sebagai Perang Tondano, yaitu perangnya suku-suku Minahasa melawan invasi kekuasaan Belanda. Perang Tondano pertama pecah pada tahun 1661. Perang ini terjadi ketika The Dutch East Indies Company  yang kali pertama berdiri pada 1602 menginginkan monopoli atas perdangangan beras dan suku-suku Tondano menolaknya.

Selama peperangan terjadi suku-suku di Tondano ini telah kehilangan banyak mitra dagang berasnya hingga pada akhirnya para Walak (sebutan bagi petinggi suku) membuat sebuah perjanjian dengan kolonial Belanda di Ternate untuk mengakhiri peperangan. Pada perjanjian tersebut tertulis bahwa “Suku Minahasa selalu menjadi sekutu bagi Belanda dan bukan sebagai subyek jajahan.”

Namun akhir indah ini tidak berlangsung lama, pada 1808  ketika Daendels dijadikan Gubernur Jenderal oleh Belanda, perjanjian ini dihapus dan tak lama kemudian Perang Tondano Kedua pun pecah dan berakhir pada kekalahan suku Minahasa. Meski demikian, di tahun-tahun ke depan suku Minahasa yang tak punya mental kalah ini senantiasa menjadi momok yang menakutkan bagi penjajah, oleh karena itu kolonial Belanda tidak memperlakukan Suku Minahasa selayaknya suku jajahan serupa seperti di Jawa dan daerah lainnya. Danau Tondano dan sejarah Perang Tondano  merupakan simbol sejarah tentang kebesaran dan keberanian dari suku Minahasa melawan kolonialisme Belanda.

Daya Tarik Danau Tondano

Banyak sekali obyek pariwisata di Danau Tondano selain dari keindahan dan lansekap sekitar danau yang spektakuler. Obyek wisata yang lumayan terkenal di sekitaran Danau ini adalah “Sumaro Endo” di Remboken, Resort Wisata Bukit Pinus (Tondano arah Toliang Oki), Gua Tikus Tasuka, dan berbagai destinasi wisata yang terlalu banyak untuk disebut di tulisan ini.

Memasuki Danau Tondano dengan pepohonan rindang dan udara dingin yang menyegarkan, di tepi danau terlihat sebuah gunung yang bernama unik dan berasal dari cerita rakyat yang kisahnya juga cukup unik: Gunung Kaweng. Konon, dulu ada sepasang kekasih yang dilarang orang tuanya namun tetap keukeh mempertahankan hubungan mereka dan akhirnya tumingkas (lari)  ke hutan. Oleh karena mengabaikan larangan orang tua mereka ini, meletuslah kembaran Gunung Kaweng dan akhirnya menjadi Danau Tondano.

Di balik permukaan Danau yang indah serta pemandangan karamba dan pemukiman warga yang terbilang unik, terdapat beragam jenis spesies ikan dan lainnya seperti  ikan mujair, pior/kabospayangka wiko(udang kecil), lobster hitam, gurame, serta Payangka yang merupakan ikan endemik Danau Tondano, serta beragam jenis spesies lainnya yang terlalu banyak untuk disebut satu-persatu.

Untuk mengunjungi Danau Tondano dari Kota Manado sama sekali tidak sulit. Dari Kota Manado Anda hanya perlu naik angkutan umum ke Terminal Karombasan dan naik bus tujuan Tondano yang jarak tempuhnya kurang lebih 90 menit. Sesampainya di terminal kota Tondano, Anda bisa saja menyewa mobil, menggunakan jasa ojek, ataupun angkutan umum untuk sampai ke Danau Tondano agar dapat menikmati panorama danau bersejarah ini. Oh ya, bila Anda mengunjungi Danau Tondano jangan lupa untuk merasakan lezatnya Sate Kolombi dan ikan Payangka yang hanya dapat Anda temukan disekitar Danau Tondano.

Source http://www.exploremanado.com http://www.exploremanado.com/pesona-dan-daya-tarik-danau-tondano/
Comments
Loading...