Ziarah Makam Raja Tallo : Menyusuri Sejarah Kota Makassar

0 73

Kompleks pemakaman umumnya bukan lokasi yang lazim dikunjungi untuk berwisata. Namun pengecualian bagi kompleks pemakaman yang punya nilai sejarah atau pun dihuni jasad orang terkenal. Kompleks Makam Raja-raja Tallo jadi salah satu rujukan jika Anda ingin menjajal wisata sejarah di Makassar. Kompleks pemakaman Islam kuno yang terletak di jalan Sultan Abdullah Raya, kecamatan Tallo, ini termasuk situs cagar budaya nasional yang dilindungi pemerintah.

 

Bersemayam jasad Raja Tallo dan keluarga

Kompleks Makam Raja-raja Tallo terletak dalam lingkup benteng Tallo, yang kini tertinggal sebagian puingnya saja. Menurut petugas penjaga makam, Bahtiar, terdapat 93 makam di area kompleks. Namun hanya 21 di antaranya yang dikenali dan bernama. Mereka adalah raja dan keluarga kerajaan Tallo yang dimakamkan antara abad ke-17 hingga abad ke-19.

Di dalam area kompleks terdapat tiga tipe makam, yaitu kubang, papan batu, dan kubah. Tipe kubang berbentuk susunan balok batu berbentuk persegi, menyerupai bentuk susunan balok-balok candi di Jawa yang terdiri dari kaki, tubuh dan atap. Tipe makam ini biasanya diperuntukkan bagi raja, pejabat, atau pembesar istana.

Tipe papan batu, yakni tipe yang dibuat seperti model bangunan kayu berbentuk empat persegi panjang, namun bahannya terbuat dari pasangan empat bilah papan batu. Adapun tipe kubah, yakni bangunan yang beratap melengkung seperti kubah yang menaungi makam di dalamnya.

Sebelum era Kerajaan Makassar

Kompleks Makam Raja-raja Tallo diperkirakan berdiri seiring berdirinya Kerajaan Tallo di abad ke-15. Menurut sejumlah catatan sejarah, Kerajaan Tallo awalnya merupakan hasil pembagian kekuasaan Kerajaan Gowa oleh Raja Gowa VI Tunatangka Lopi (1445-1460). Kerajaan Gowa dan Tallo akhirnya bersatu kembali melalui persekutuan bernama Kesultanan Makassar pada abad ke-16.

Sebagian besar makam terdiri dari susunan batu andesit dan sebagian lainnya menggunakan bahan bata. Kompleks makam telah dua kali dipugar, masing-masing pada tahun 1974/1975 dan 1981/1982. Bangunan dipugar hingga mendekati bentuk aslinya. Saat ini kompleks makam terawat dalam kawasan yang dikelilingi taman. Beberapa pepohonan tumbuh besar menghasilkan kesan rindang dan asri.

Makam Macang Kebo paling ramai peziarah

Menurut Bahtiar, di kompleks ini hanya satu makam yang paling sering dikunjungi khusus oleh peziarah. Sedangkan yang lain hanya dikunjungi sambi lalu. Yang dimaksud adalah makam Sultan Mudaffar, Raja Tallo VIII. Pria bernama I Manginyarrang Dg Makkiyo ini dikenang dengan gelar Karaeng Kanjilo Ammalianga ri Timoro. Dia putra Kareng Matoaya I Malingkaang Daeng Mannyonri, raja pertama Tallo yang menganut Islam.

Sultan Mudaffar juga dikenal dengan julukan Macang Kebo Karaeng Tallo atau Macan Putih Raja Tallo. Julukan itu konon karena dia gigih dalam memimpin peperangan. Peziarah, kata Bahtiar, mesti didampingi oleh pinati. Dialah juru doa makam yang turun-temurun jadi juru kunci. Pinati pertama di masa lampau ditunjuk langsung oleh Raja Tallo.

Source https://www.idntimes.com https://www.idntimes.com/travel/destination/aan-pranata/berziarah-ke-kompleks-makam-raja-tallo-menyusuri-sejarah-makassar/full
Comments
Loading...