Wisata Sejarah Museum Tsunami Aceh

0 11

Museum Tsunami Aceh

Museum Tsunami Aceh merupakan objek wisata sejarah, pusat pendidikan, dan tempat perlindungan darurat apabila terjadi tsunami kembali. Mari lihat isinya. Indonesia pernah mengalami gempa dan tsunami dahsyat pada tanggal 26 Desember 2004, di Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam (NAD) sekitar pukul 07.15 WIB. Gempa yang berkekuatan 9,3 SR meluluhlantakkan seluruh kehidupan masyarakat Aceh. Seluruh bangunan telah rata, ratusan orang terluka, lebih dari puluhan ribu orang dinyatakan hilang, dan lebih dari ratusan ribu orang meninggal. Duka Indonesia juga menjadi duka dunia. Banyak negara-negara lain yang bersimpati dan memberikan bantuan untuk Aceh.  Untuk mengenang kembali peristiwa tsunami dahsyat yang pernah melanda Aceh, dibangunlah sebuah museum tsunami yang terletak di jalan Sultan Iskandar Muda No 3, Sukaramai, Baitturahman, Kota Banda Aceh. Bangunan dengan luas 2.500 meter persegi ini juga dirancang sebagai pusat pendidikan, objek wisata sejarah, tempat perlindungan darurat apabila terjadi tsunami kembali, dan juga warisan kepada masyarakat Indonesia bahwa tsunami dahsyat pernah melanda Aceh dan menelan banyak korban.

Museum ini hasil rancangan arsitek asal Bandung, Ridwan Kamil, yang kala itu menjabat sebagai dosen ITB. Pembangunan museum dimulai pada tahun 2007 – 2009 dan menghabiskan biaya sebesar Rp140 miliar. Desain bangunan museum tsunami ini jika kita perhatikan dari atas, bentuknya seolah seperti gelombang tsunami. Museum ini menyimpan semua foto dan video dokumentasi bencana tsunami. Terdiri dari empat lantai. Di lantai dasar, berfungsi untuk ruang terbuka dan digunakan untuk ruang publik.

Ruang pertama yang akan kita lalui saat mengunjungi gedung museum ini adalah ruang renungan. Di dalam ruang renungan, kita akan melewati sebuah lorong yang remang dan sempit. Di kiri dan kanan lorong tersebut terdapat air mengalir ibarat gemuruh tsunami dan juga suara azan. Setelah melewati ruang renungan, kita akan memasuki ruang yang banyak menyajikan foto pasca tsunami yang menunjukkan kerusakan, kehancuran, dan kematian.

Setelah melewati ruangan ini, kita akan masuk ke sebuah ruang agak gelap yang berbentuk silinder memanjang tinggi ke atas semacang cerobong. Bangunan ruang ini seolah menandakan perjuangan para korban tsunami saat tersekap gelombang yang tingginya melebihi pohon kelapa. Disemua dinding ruangan dipenuhi tulisan nama-nama korban tsunami yang meninggal. Di atap ruangan, terdapat kaligrafi arab bertuliskan ALLAh dengan sinar remang-remang. Setelah keluar dari ruang cerobong ini, kita akan melihat banyak bendera yang berjumlah 52 dari berbagai negara yang menandakan bahwa mereka mengulurkan bantuan untuk Aceh.

Lantai dua museum terdapat ruang audio dan ruang 4D. Kita akan melihat pemutaran film tsunami yang berdurasi 15 menit saat gempa terjadi dan saat pertolongan datang. Di lantai tiga terdapat ruang geologi yang berisi segala informasi mengenai gempa dan tsunami melalui beberapa display dan juga terdapat ruang simulasi gempa. Ada juga musala, ruang perpustakaan, dan ruang suvenir yang menjual suvenis khas aceh, seperti kaos, rencong, bros rencong, bros pintoe aceh dan sebagainya. Lantai yang terakhir, yaitu lantai empat,tidak dibuka untuk umum karena berfungsi untuk tempat penyelamatan darurat apabila terjadi tsunami di masa mendatang dan hanya dibuka saat darurat.

Source https://travel.detik.com https://travel.detik.com/dtravelers_stories/u-3406659/kisah-pilu-di-museum-tsunami-aceh
Comments
Loading...