Wisata Budaya : Tari Asek Ayun Luci, Tarian Syukur Bernuansa Mistis

0 8

Masyarakat Suku Kerinci memiliki beragam tarian tradisi jaman megalitik yang masih memiliki unsur kepercayaan purba animisme dan dinamisme. Sejumlah ritual yang bersifat magis dan masih berakar pada kepercayaan kepada roh-roh nenek moyang masih terjaga di masyarakat yang mendiami kawasan Dataran Tinggi Kerinci, Jambi tersebut.

Para peneliti kebudayaan menyebutkan bahwa Suku Kerinci merupakan salah satu suku terkecil di dunia yang memiliki peninggalan tarian tradisi yang lahir dan tumbuh sejak zaman purba. Diantaranya adalah tari Asyek, Asik atau Asaik. Kata Asyek berasal dari kata asik. Diantara tari asyek tersebut, adalah Tari Asek Ayun Luci. Salah satu ciri khas tarian daerah Kerinci terletak pada gerakan kaki dan gerak berkeliling. Langgam ini biasa disebut rentak purba.

Tari Asek Ayun Luci adalah salah satu tarian tradisional masyarakat Kerinci yang bertujuan untuk menunjukkan rasa syukur atas rahmat yang diberikan oleh Sang Pencipta atas mulai keluarnya isi padi yang mereka tanam. Selain itu, tarian ini juga bertujuan pula untuk menolak bala terhadap serangan hama penyakit seperti serangan hama tikus, burung dan hama babi yang mengganggu supaya hasil panennya lebih baik. Pada zaman dahulu, ritual ini dilakukan bersama-sama ditengah area persawahan.

Tari Asek Ayun Luci berasal dari Desa Siulak, Kabupaten Kerinci, Jambi. Ayun dalam bahasa Siulak adalah mengayun, luci itu berarti jatuh. Ngadu berarti mengadu dan sakti bearti kesaktian yang kemudian diartikan, mengadu kesaktiaan. Biasanya, tarian tradisonal ini dibawakan satu tahun sekali pada saat padi mulai menguning atau pada saat pekan budaya Festival Danau Kerinci.

Sebelum menari, didahului oleh upacara dengan kemenyan sebagai tanda minta izin kepada nenek moyang. Penari laki-laki akan menari sembari memperlihatkan kekebalan tubuh mereka dari benda tajam. Sementara penari wanita menari sambil menginjak beling tanpa ada luka sedikitpun, berjalan diatas telur dan telur masih utuh dan berbagai gerakan lainnya. Tak hanya itu, ada pula gerakan keris yang bisa berdiri tegap padahal hanya disentuh ujung jari.

Biasanya, tarian ini dibawakan oleh penari pria dan wanita. Saat memasuki arena, penari-penari membawa berbagai jenis perlengkapan, mulai dari sirih lengkap dengan pinangnya, kemenyan dengan asap yang mengepul, rokok enau (daun aren), keris, tiga bilah pedang, tombak bambu runcing, serta perlengkapan lainnya.

Sementara Pawang membacakan mantera sambil mengayunkan luci-luci yang bergantungan. Kemudian, para penari, menari-nari mengelilingi luci sambil sesekali memercikkan air bunga cina. Semakin lama gerakannya semakin kencang sesuai dengan tempo musik.

Tari ini sangat sakral dan bernuansa mistis. Biasanya, para penari akan mengalami trance, tidak sadarkan diri karena kerasukan dan menari tanpa sadar. Bahkan seringkali sampai pingsan. Kemudian para penari akan diobati oleh pawang, begitulah seterusnya sampai pawang menyatakan bahwa hajat sudah tersampaikan.

Source https://pesona.travel https://pesona.travel/keajaiban/1370/tari-asek-ayun-luci-tarian-syukur-bernuansa-mistis
Comments
Loading...