Rumah Limas 100 Tiang Dibangun Tahun 1811 di Desa Sugih Waras

0 14

Rumah 100 Tiang merupakan daya tarik wisata sejarah dan budaya unggulan yang ada di Desa Sugih Waras Kecamatan Teluk Gelam Kabupaten Ogan Komering Ilir (OKI) Provinsi Sumatera Selatan (Sumsel). Rumah ini terletak 100 meter dari Jalan Raya Tanjung Lubuk,  lalu masuk ke jalan desa tepi dipinggir Sungai Komering dengan jarak kurang lebih 15 meter.

Rumah limas ini, memiliki daya tarik wisata yang dirancang oleh arsitektur tradisional yang dinilai cukup unik dengan memiliki pondasi dan penyangga sejumlah 100 tiang dan memiliki nilai sejarah. Interior, ukiran rumah seratus tiang terlihat khas China dan Arab dibangun di Sugih Waras yang ada di area rumah panggung membuat gaya tarik tersendiri berwarna emas, kuning ke kuningan.

 

Apabila Anda berkunjung ke Bumi Bende Seguguk, Kabupaten OKI, tidak melangkahkan kaki ke Desa Sugih Waras untuk melihat dari dekat rumah seratus tiang itu, akan menyesal. Untuk jarak tempuh dari Kota Kayuagung, hanya 18 kilometer (km). Dari Kota Palembang, jarak tempuh 84 km Karena, rumah limasseratus tiang didirikan pada tahun 1811 oleh Pangeran Redjed Wiralaksana yang berasal dari Suku Rambang yang merantau ke daerah Komering untuk meminangkan puteranya kepada seorang puteri dari Suku Kayuagung.

Menurut cerita Kadis Pariwisata H Amirudin Msi melalui Kabid Kebudayaan Nila Maryati, Pangeran Ismail selaku orang tua dari puteri yang dipinang meminta agar anaknya dibangunkan sebuah rumah besar bertiang seratus yang terbuat dari kayu unglen dan kayu serumpun yang diukir dalam bentuk ukiran 3 dimensi dan lukisan. Oleh Pangeran Rejed dibuatlah rumah tersebut dengan menggunakan jasa arsitek yang berasal dari Cina dan Arab sehingga rumah tersebut kaya akan hiasan yang bermotif Arab, Timur Tengah, dan juga Melayu. Rumah tersebut kini dihuni oleh generasi ke-4 dari pemiliknya yakni, Sabariah sebelumnya dihuni oleh Almarhum Pangeran Rejed Wiralaksana, Almarhum Depati Malian, Almarhum Depati M Ali Besar, dan Nyonya Sabariah bersama suaminya Edy Johan sekarang ini.

Penghuni rumah tersebut merupakan turunan ke-empat dari Pangeran Rejed. Konon rnamen rumah menurut pengakuan Edi Johan penghuni rumah, belum ada yang berubah kecuali genteng bagaian atas yang diganti karena bocor maupun patah. Renovasi dilakukan diupayakan tidak mengubah keaslian bentuk semula rumah seratus tiang ini. “Rumah ini dibangun Tahun 1811 yang lalu, dan wajar kalau sekarang kondisinya kurang baik, karena atap rumah sudah ada yang bocor,” cerita Nila ketika ditemui di ruang kerja.

Rumah limas seratus tiang merupakan rumah panggung yang ditopang oleh tiang-tiang kayu berkelas berbentuk bulat setinggi 2 sampai 4 meter yang jumlahnya mencapai lebih dari 100 tiang. Adapun kayu yang digunakan berjenis kayu unglen, kelempate, tembesu dan medang. Rumah ini berbentuk persegi panjang dengan ukuran 16 meter x 36 meter. Tangga masuk ada 2 tempat yang terletak di sebelah kanan dan kiri depan rumah.

Untuk masuk ke rumah sebelumnya jangan lupa melepaskan alas kaki, lalu menuju ruang dalam harus melalui teras dan ruang antara. Pada bagian teras terdapat pagar kayu dan ditopang oleh tiang segi empat berukuran 10 centimeter (cm). Masing-masing ruang di rumah ini mempunyai perbedaan ketinggian lantai, mulai dari lantai teras yang paling rendah, kemudian ruang antara yang lebih tinggi 35 cm dari ruang teras, dan terakhir yang paling tinggi adalah ruang dalam yang lantainya 35 cm lebih tinggi dari ruang antara. Hal tersebut mempunyai maksud bahwa ruang dalam mempunyai nilai yang lebih tinggi dari ruang lainnya.

Antara teras dan ruang antara terdapat sekat dinding kayu yang bentuknya seperti ventilasi, karena ada celah-celah di antara kayu penyusun dinding dan pada bagian atasnya dihias dengan hiasan kerawangan berwarna kuning emas. Pintu masuk menuju ruang antara berada di tengah-tengah berupa pintu kayu ganda. Setelah masuk ke ruang antara yang merupakan ruang penghubung antara ruang luar dan ruang dalam, selanjutnya menuju ke ruang dalam yang disekat oleh sebuah dinding yang terbuat dari jajaran kayu yang disusun secara vertikal.

Secara garis besar, ruang dalam ini terbagi atas 3 bagian, yaitu bagian depan, bagian tengah, dan bagian belakang. Pintu masuk ke ruang dalam berukuran besar dan lebar dengan engsel pada bagian atasnya. Oleh karena engsel pintu berada di bagian atas, maka cara membukanya pun juga ke arah atas. Hal ini tentunya berbeda dengan pintu pada umumnya yang membuka ke arah samping. Bentuk dan ukuran, serta cara membuka pintu seperti ini merupakan salah satu ciri khas pintu rumah tradisional yang ada di Kabupaten Ogan Komering Ilir. Pintu seperti ini dimaksudkan agar ketika ada acara di rumah yang mengundang orang banyak, maka sekat dinding kayu ini dapat dibuka lebar.

Bagian depan dari ruang dalam rumah ini merupakan ruang terbuka untuk berkumpul bersama anggota keluarga. Pada bagian samping ruangan ini diberi jendela ganda berbentuk panil kayu dengan teralis kayu pada bagian dalamnya. Bentuk plafon mengikuti aluran kasau, pada bagian tepi plafon diberi hiasan geometris berwarna merah, putih, dan biru yang merupakan hiasan yang dibuat oleh Belanda. Rumah ini memang pernah dijadikan sebagai markas Belanda ketika Belanda menduduki daerah ini. Di dalam ruangan ini terdapat beberapa benda yang masih asli peninggalan dari pemilik rumah, yakni sebuah cermin dan sebuah hiasan kaligrafi.

 Antara bagian depan dan bagian tengah rumah terdapat dinding penyekat dengan sepasang pintu ganda yang terletak di bagian tengahnya, serta beberapa buah jendela kaca di samping kanan dan kirinya. Dinding penyekat dan pintu ganda tersebut penuh dengan hiasan dengan motif hias yang berasal dari Cina, Mesir, dan Palembang. Hiasan motif Cina dan Mesir dibuat dengan cara diukir, sedangkan motif hias Palembang dibuat dengan cara ditera. Motif hias Cina dan Mesir diukirkan pada bagian pintu, sedangkan motif hias Palembang diterakan pada bagian bawah jendela kaca. Hiasan-hiasan tersebut diberi warna kuning emas, sedangkan kayu dasarnya diberi warna hijau dan merah kecokelatan.

Masuk ke bagian tengah rumah terdapat kamar-kamar yang berjajar saling berhadapan sehingga pada bagian tengahnya tercipta sebuah lorong menuju bagian belakang rumah. Kamar-kamar tersebut mempunyai jendela ganda berbentuk panil. Pada bagian dinding kamar terdapat hiasan motif Palembang.  Selanjutnya menuju ke bagian belakang rumah yang juga merupakan ruang terbuka. Ruang ini berfungsi sebagai ruang makan dan dapur. Rumah  ini mempunyai atap yang berbentuk limasan dan terbuat dari genteng.

Source http://membangunokidaridesa.tribunnews.com http://membangunokidaridesa.tribunnews.com/2016/11/27/rumah-limas-100-tiang-dibangun-tahun-1811-di-desa-sugih-waras
Comments
Loading...