Rumah Adat Sulawesi Tenggara

0 38
Propinsi ini beribukota Kendari, yang terbagi menjadi 4 Kabupaten, yaitu : Kendari, Kolaka, Muna, Buton dan dua kota administrative yaitu kota Kendari dan Kotif Bau-bau. Daerah ini kaya dengan hasil hutan kayu besi, miba, jati dan rotan, sedangkan perut buminya memberikan nikel dan aspal, masing-masing di Pomalaa dan Buton. Penduduk Sulawesi tenggara terdiri dari beberapa suku yaitu Tolaki, Buton (Wolio), Mekongga, Muna, dan Kaba Ena di Pulau Kaba Ena yang umumnya beragama Islam. Kekayaan daerah ini masih ditambah dengan keindahan alamnya, kini merupakan potensi wisata, yang menjanjikan harapan.
Rumah Adat Tolaki
Secara Universal rumah tinggal dikalangan suku bangsa Tolaki disebut Laika  yang berarti “rumah” dan ada juga istilah yang menunjukan rumah seperti poiaha. Bangunan ini berukuran luas, besar, dan berbentuk segi empat terbuat dari kayu dengan diberi atap dan berdiri diatas tiang- tiang besar yang tingginya sekitar 20 kaki dari atas tanah. Bangunan ini terletak disebuah tempat yang terbuka di dalam hutan dengan dikelilingi oleh rumput alang-alang. Pada saat itu bangunan tingginya sekitar 60-70 kaki. Dipergunakan Sebagai tempat bagi raja untuk menyelenggarakan acara-acara yang bersifat seremonial atau upacara adat (Melamba 50).
Falsafah
Rumah adat Laika
Suku Tolaki dan suku Wolio merupakan dua suku yang sangat menonjol di pulau Sulawesi Tenggara yang menerapkan sistem nilai budaya ketika membangun suatu rumah untuk ditinggali ataupun rumah untuk berkumpul, yang disebut dengan pembagian secara kosmologi alam dan pembagian yang mengacu pada analogi tubuh.
Tampak dari atas bagian depan rumah adat Tolaki, dianalogikan sebagai tangan kanan dan kiri dan tengahnya dagu. Bagian tengah dianalogikan dua lutut dan tengahnya tali pusar, Pada bagian belakang dianalogikan dua kaki kiri dan kanan dan ditengahnya alat vital.
Dilihat secara vertikal rumah pada orang Tolaki terbagi menjadi tiga bagian, yaitu:
  • Bagian bawah/kolong bermakna sebagai aplikasi dari dunia bawah (puriwuta), yang dimaksud untuk menghindari banjir, tempat binatang ternak, tempat bersantai, tempat menyimpanan alat pertanian, agar rumah menjadi dingin dan terhindar dari binatang buas.
  • Bagian atas merupakan tempat ruang yang berfungsi sebagai tempat beraktivitas
  • Bagian tengah mewakili dunia tengah sebagai pandangan falsafah perwujudan alam semesta. Dilihat secara horizontal bagian depan rumah berbentuk simetris, berkaitan dengan bentuk formil. Sedangkan asimetris terkait dengan dinamis. Makna tersebut terkait dengan sifat orang Tolaki yang dinamis dan formil. Tampak dari depan atau disebut fasad bagian bawah atau rangka dan lantai dianalogikan dengan dada dan perut manusia. Bagian loteng atau bagian atas dianalogikan punggung manusia sedangkan penyangga dianalogikan sebagai tulang punggung manusia. Sedangkan atap adalah rambut atau bulu. Bagian atap dianalogkan muka dan panggul manusia.(Melamba 88).

Banua Tada
Banua tada merupakan rumah adat suku Wolio atau orang Buton di Kabupaten Buton, Provinsi Sulawesi Tenggara, Indonesia. Rumah adat berbentuk panggung ini unik karena dapat berdiri tegak tanpa menggunakan satu pun paku.
Banua tada merupakan rumah tempat tinggal suku Wolio atau orang Buton di Pulau Buton, Sulawesi Tenggara. Kata banua dalam bahasa setempat berarti rumah sedangkan kata tada berarti siku. Jadi, banua tada dapat diartikan sebagai rumah siku. Berdasarkan status sosial penghuninya, struktur bangunan rumah ini dibedakan menjadi tiga yaitu kamali, banua tada tare pata pale, dan banua tada tare talu pale. Kamali atau yang lebih dikenal dengan nama malige berarti mahligai atau istana, yaitu tempat tinggal raja atau sultan dan keluarganya.

Source http://isranlabahi.blogspot.com http://isranlabahi.blogspot.com/2018/02/rumah-adat-suku-tolaki.html
Comments
Loading...