Pulau Kabaena : Keindahan Alami di Sulawesi Tenggara

0 54

Pulau Kabaena, Satu lagi Tempat Cantik di Sulawesi Tenggara

Pulau Kabaena yang cukup berpotensi dikembangkan menjadi salah satu daerah tujuan wisata di Provinsi Sulawesi Tenggara. Corak atau karakteristik pulau seluas 867,69 kilometer persegi itu adalah alam pegunungan. Dari arah mana pun kita mendarat, Kabaena akan selalu menyambut dengan pegunungan hijau berlapis-lapis yang menyejukkan mata. Ketika kapal memasuki Pelabuhan Dongkala di ujung timur pulau itu, pengunjung akan dikerubuti pengemudi ojek yang menawarkan jasa untuk mengantar dengan sepeda motor ke tujuan yang dikehendaki. Mobil angkutan umum sangat langka.

 

Menikmati alam pegunungan Pulau Kabaena tak lengkap tanpa mengunjungi tiga desa berhawa sejuk. Ketiga desa tersebut adalah Tangkeno di lereng Gunung Sangia Wita, serta Desa Tirongkotu’a dan Rahadopi di lereng Gunung Watu Sangia. Goa dan karang atol Selain alam pegunungan, Kabaena juga memiliki kawasan wisata Goa Watuburi di lereng pegunungan karst Lengora dan Pulau Sagori di Sikeli. Pulau kecil ini merupakan karang atol berbentuk setengah lingkaran. Hampir separuh dari lingkaran tersebut merupakan pasir putih bersih yang menawarkan kenyamanan untuk bersantai atau berjemur di panas matahari.

Selain pemandangan khas seperti stalaktit dan stalagmit di ruang depan pintu masuk, Goa Watuburi juga memiliki lorong sepanjang pegunungan karst Lengora yang selama ini belum pernah ditelusuri. Sejumlah benteng dan makam tua di Desa Tangkeno juga menanti turis peminat sejarah dan budaya. Warga setempat sering menemukan mata uang logam dan piring kuno bersimbol China yang tersembunyi di balik susunan batu benteng atau makam. Kondisi jalan Hubungan transportasi ke dan dari Kabaena kini cukup lancar. Pulau itu bisa dikunjungi melalui Kota Bau-Bau dan Kasipute, ibu kota Kabupaten Bombana. Kapal-kapal rakyat beroperasi mengangkut penumpang dan barang setiap hari ke Dongkala dan Sikeli dari Bau-Bau atau Kasipute.

Bagi pengunjung yang membawa mobil sendiri dapat menggunakan angkutan kapal feri di lintas penyeberangan Mawasangka-Dongkala (14 mil). Mawasangka adalah kota kecamatan di ujung Pulau Muna yang terdekat dengan Kabaena. Sebaliknya, hubungan transportasi antarkecamatan dan desa di pulau itu masih sangat sulit. Pasalnya, prasarana jalan di sana masih jalan tanah yang menjadi kubangan pada musim hujan. Angkutan umum lokal didominasi ojek yang relatif mahal untuk ukuran kocek warga setempat yang umumnya miskin. Jarak Sikeli-Teomikole (5 km), misalnya, penumpang ojek harus membayar Rp 10.000.

Perajin gula merah dari nira aren itu menuturkan, harga gula merah di desanya (Maret 2008) Rp 750 per kilogram, sementara di Dongkala Rp 3.500 per kg. Padahal, jarak kedua tempat itu sekitar 30 km. Pegunungan Kabaena amat menyejukkan. Nuansa alam di Desa Tangkeno terasa seperti di daerah Bukittinggi, Sumatera Barat. Namun, kehidupan rakyat di kawasan lereng Gunung Singgalang itu jauh lebih makmur. Bila malam merangkak turun, warga Tangkeno segera meringkuk di gubuk mereka untuk melawan dingin. Seperti umumnya model rumah Kabaena, perumahan di desa itu berbentuk rumah panggung atau rumah kaki seribu tanpa fasilitas kakus.

Source https://nasional.kompas.com https://nasional.kompas.com/read/2008/04/18/02172298/pulau.kabaena.yang.terus.merana
Comments
Loading...