Peninggalan Sejarah, Rumah Marga Tjhia Singkawang

0 44

Rumah Marga Tjhia Singkawang

Perjalanan ke Singkawang memang cukup menyenangkan, banyak tempat wisata yang tersembunyi dan terselubung diantara deretan bangunan rumah took yang menyebar rata ditengah kota. Ramai bahkan cenderung berdempet dan sempit, cukup membuat kita linglung karena bentuknya yang hampir sama tanpa beda, belum lagi bentuk jalan yang hampir sama.

Sebuah bangunan ala Tiongkok kuno terletak di belakang deretan bangunan ruko baru JI. Budi Utomo, Singkawang. Tepatnya rumah No.36 ini di ujung jalan menuju tepi sungai. Di antara bangunan baru begitu banyak dalam kota Singkawang, bangunan tersebut masih kokoh berdiri selama ratusan tahun sampai sekarang. Bentuknya yang mirip “Si he yuan” (bangunan khas Tiongkok utara) ini justru memberikan kesan bersahaja dan sedikit kesuraman karena terkikis hantaman cuaca selama ratusan tahun.

Kota Singkawang pada seratus tahun lalu masih merupakan dusun kecil sunyi sepi yang belum digarap, penuh hutan belantara namun berpenduduk minim. Belum ada jalan raya, yang ada hanya jalan tikus menghubungkan beberapa gubuk yang langka. Transportasi hanya mengandalkan sepeda dan pedati, sebuah sungai yang mengalir di tengah-tengah “kota” merupakan jalur utama satu-satunya untuk pengangkutan materi ke dunia luar.

Rumah besar ini memiliki dua ruangan besar bagian depan dan belakang yang penuh ornamen dan ukiran maupun kaligrafi berwarna emas di setiap ambang pintu. Tulisan “Bao Shu” tergantung di tengah-tengah ruangan lantai dua. Tulisan “Jing Xing” dan “Qing Yun” terpampang di kiri-kanannya sedangkan di kiri kanan pintu lantai satu masih ada tulisan “Pei Lan” dan “Yu Zhu”. Sisi kiri tertulis “Ju Ren” dan sisi kanan “You Yi” di bagian belakang ruangan depan.

Dalam ruangan depan tersusun satu set meja kursi berkesan sangat mewah dengan ukiran dan tatahan nirmala ala Tiongkok. Fungsinya untuk menerima tamu pejabat setempat dan tokoh masyarakat maupun pengusaha. Sebuah taman bunga kecil memisahkan bagian ruangan depan dan ruangan belakang. Tulisan “Jian Long” berwarna emas terpampang di tengah-tengah pintu masuk, diiringi sepasang Duilian ukiran kilap gemilau di dua sisi, tulisan masing-masing tertera di atasnya.

Ruangan belakang merupakan altar abu leluhur, terpajang patung Buddha dan dewa beserta papan nama para leluhur. Seperti ruangan depan, terdapat pula sebuah taman kecil di bagian belakang ruangan, mengelilingi belasan kamar tidur bagian barat yang tersusun dalam bentuk alfabet U. Tempat istirahat anak cucu keluarga Xie terletak di sana. Sebuah koridor menghubungkan semua Kamar tidur dan ruangan depan belakang agar bebas dari sengatan matahari dan curah hujan. Kedua sisi koridor dihiasi ornamen berbagai corak menciptakan pandangan yang pesona.

Bangunan nuansa antik yang didirikan Xie Shou Shi (alias Xie Zhong Shou, Xie Shou, Xie Feng Chen), sang leluhur perintis pertama marga Xie di Singkawang, sudah berumur 105 tahun namun masih berdiri kokoh. Hingga kini sudah menjelang tujuh generasi masih menetap di situ dan meneruskan dan generasi ke generasi. Demi memelihara harta benda leluhur dan melestarikan benda bersejarah budaya corak original Tionghoa, sekaligus merespon kebijakan Pemkot Singkawang yang menetapkan kota Singkawang sebagai pusat kebudayaan Tionghoa untuk mengembangkan industri pariwasata setempat.

Source http://www.tukangjalanjajan.com http://www.tukangjalanjajan.com/2011/06/rumah-tua-rumah-marga-tjhia.html
Comments
Loading...