Pantai Waha, Keindahan Panta Alami di Wakatobi

0 53

Pantai Waha

Pantai Waha merupakan pantai terbuka atau laut lepas dari laut Banda. Memang luar biasa di bawah laut ditemukan berbagai keindahan. Ada tempat yang ditandai tegakan bambu, merupakan yang sengaja ditumbuhkan dan tidak boleh diganggu pengunjung. Bersamaan dengan itu, pak Hardin memainkan kamera bawah laut memfoto gambar-gambar yang menarik. 

Suasana Waha saat itu sangat indah. Senja itu bernuansa kemerahan karena matahari sedang menuju tenggelam di arah pandangan kiri menuju laut. Paduan langit kemerahan dan laut semakin gelap menciptakan pola warna pemandangan yang khas. Sebuah perahu ikut menciptakan siluet memberi warna yang khas.
WTC merupakan sebuah lembaga pariwisata berbasis masyarakat, didirikan pada 9 Januari 2011. WTCini melibatkan penduduk dengan mengembangkan jasa-jasa perahu, snorkling dan diving, kuliner, suvenir dan homestay. WTC mengkoordinasikan seluruh aktivitas tersebut, ini berhasil memberdayakan ekonomi masyarakat dan sekaligus mengonservasi terumbu karang. Masyarakat mulai paham kekayaan laut harus dikonservasi dan dikembangkan lebih produktif. Dahulu sebelum COREMAP, banyak nelayan menggunakan bom atau bius ikan di wilayah ini. Akibatnya, ikan-ikan banyak yang mati dan terumbu karang rusak. Tiba-tiba penulis melihat lampu berkedip di kegelapan pantai, berasal dari perahu nelayan kecil. Hal itu penulis tanyakan ke Pak Dirman: “Bagaimana dengan nelayan-nelayan yang masih mengambil ikan di pantai?”. 
Pak Dirman menjelaskan, itu memang masih terjadi untuk mengambil udang-udang kecil. Umumnya nelayan harus ke laut dalam untuk mengambil ikan. WTC ini sangat cocok dengan kebutuhan wisatawan donestik. Tarif homestay di WTC sangat terjangkau berkisar 80 hingga 100 ribu rupiah per orang per malam. Tingkat kunjungan tertinggi terutama hari libur, yakni Sabtu dan Minggu atau libur sekolah. 
Pada hari libur, rombongan kantor pemerintah berkunjung ke Waha hingga seharian untuk berekreasi. Terkadang sampai lima rombongan atau Dinas, sehingga suasananya menjadi penuh. Menurut pak Dirman, jumlah kunjungan mencapai 3000 orang per tahun dari catatan peminjaman alat-alat selam. Lainnya tidak tercatat karena WTC belum menerapkan retribusi masuk.
Perbincangan sedikit mereda saat menu makanan berdatangan. Ibu Sudirman sudah menyiapkan aneka makanan ikan, baik yang bakar maupun sop ikan (parende). Ada pula sambal cair dengan campuran tomat. Ada pula ketan singkong atau yang disebut kasuami, sebagai pengganti nasi. Penulis coba setiap jenis menu tersebut, tentu dalam jumlah terbatas. Penulis tetap menghindar jenis kerang atau ikan lunak karena punya sejarah alergi.  
 
Source https://www.kompasiana.com https://www.kompasiana.com/iwannugroho/55128e12a33311d65aba7d93/pantai-waha-wakatobi
Comments
Loading...