Obyek Wisata Sejarah Candi Plumbangan di Blitar

0 163

Candi Plumbangan

Candi Plumbangan merupakan salah satu wisata sejarah secara administratif terletak di Desa Plumbangan, Kecamatan Doko, Kab. Blitar. Letak candi ini sebenarnya tak terlalu jauh dari Kawedanan Wlingi. Berikut rute menuju Candi Plumbangan dari Kawedanan Wlingi: dari kawedanan menuju Jl. Hayam Wuruk – selanjutnya perhatikan plang petunjuk arah Doko, ikuti arah yang ditunjukkan – ikuti Jl Anusapati yang berkelok-kelok hingga sampai pada gapura selamat datang Desa Plumbangan – dari situ ikuti arah yang ditunjukkan plang Candi Plumbangan. Lokasi candinya berada di tengah pemukiman penduduk dan dikelilingi jalan desa.

Plumbangan sebenarnya kurang tepat disebut sebagai candi. Istilah candi dalam kasus ini hanyalah etimologi umum untuk menyebut bangunan apa pun yang berasal dari masa klasik. Candi Plumbangan sendiri sebenarnya merupakan sebuah gapura bergaya paduraksa (atap menyatu). Candi ini pertama kali dilaporkan oleh Hoepermans saat berkunjung ke Wlingi. Mula-mula ia mengira bahwa struktur gapura ini merupakan reruntuhan candi. Ketika de Haan mengunjungi Candi Plumbangan pada tahun 1920, bangunannya sudah runtuh, kemudian pada tahun 1921 diadakan lah restorasi.

Gapura Plumbangan tersusun dari batu andesit, menghadap ke arah barat. Di sisi utara dan selatan harusnya terdapat tembok keliling yang bersambung dengan struktur gapura tersebut. Sayangnya sisa-sisa tembok itu tidak dapat direkonstruksi karena telah hilang. Dari sisi arsitektekturnya, Gapura Plumbangan ini sangat lah sederhana. Bagian tubuhnya terdiri dari bidang rata dengan pigura tanpa hiasan. Atapnya tersusun atas pelipit-pelipit horizontal. Di bawah atap atau di atas ambang pintu terdapat angka tahun yang bertarikh 1312 Saka (1390 M).

Selain struktur gapura, pada kawasan Candi Plumbangan dijumpai pula tinggalan lepas berupa batu candi, Prasasti Panumbangan, dan yoni. Meski dalam Worshiping Siva and Buddha: The Temple Art of East Java, disebutkan bahwa candi Plumbangan berkaitan dengan sebuah tempat suci Budha, namun beberapa tinggalan lepasnya justru bercorak Hindu. Salah satunya adalah yoni yang merupakan simbol Dewi Parwati, salah satu dewa dalam agama Hindu. Keberadaan atribut Hindu dan Budha pada suatu bangunan candi di Jawa Timur sebenarnya tidak terlalu mengherankan, sebab dalam perkembangannya memang terjadi sinkretisme Siwa-Budha yang mencapai puncaknya sejak masa Singhasari.

Source https://travellersblitar.com https://travellersblitar.com/candi-plumbangan-gerbang-lintas-waktu-dari-desa-plumbangan-blitar/
Comments
Loading...