Masjid Jamiatul Khair Kraton Amantubillah Mempawah

0 90

Masjid Jamiatul Khair Kraton Amantubillah

Masjid Jamiatul Khair merupakan salah satu masjid tua di Kalimantan Barat, masjid Jamiatul Khoir merupakan masjid kerajaan dari Kesultanan Mempawah di Kabupaten Pontianak provinsi Kalimantan Barat. Pertama kali dibangun pada tahun 1906 oleh Panebahan Mempawah Mohammad Atufik Akamaddin.Lokasi Masjid Jamiatul Khair tak jauh dari Keraton Amantubillah kesultanan Mempawah. Bersama dengan Keraton Amantubillah, Masjid Jamiatul Khairmenjadi daya tarik tersendiri bagi wisatawan yang berkunjung ke Mempawah.

 

Lokasi Masjid Jamiatul Khair

Masjid Jamiatul Khair berdiri di tepian sungai Mempawah. Ditempatkan di pinggir sungai supaya memudahkan masyarakat menuju masjid, karena pada saat itu sungai dijadikan jalur transportasi utama untuk aktivitas masyarakat. Belum ada pembangunan jalan raya dan lainnya. Lokasi masjid ini juga tidak jauh dari Istana Amantubillah yang merupakan Istana Kerajaan Mempawah.

Masjid Jamiatul Khair

Kampung Pedalaman Kecamatan Mempawah Timur

Kabupaten Mempawah, Propinsi Kalimantan Barat

Indonesia

Koordinat geografi : 0° 22′ 12.00″ N  108° 57′ 39.10″ E

Sejarah Masjid Jami’atul Khair

Masjid Jami’atul Khair berdiri tanggal 25 Desember 1906 oleh Panembahan Menpawah Mohammad Atufik Akamaddin. Masjid ini terletak tak jauh dari Keraton Amantubillah di tepian Sungai Mempawah. Masjid Jamiatul Khair sudah tiga kali mengalami perpindahan tempat. Yakni di Kampung Brunai, Kampung Siantan dan Kampung Pedalaman yang terletak di pinggir Sungai Mempawah. Masjid yang sekarang ini merupakan bangunan yang kedua, karena masjid pertama pernah terbakar

Arsitektural Masjid Jami’atul Khair

Masjid Jamiatul Khair merupakan salah satu masjid tertua di Mempawah. Masjid tersebut selalu ramai dipenuhi jemaah baik untuk salat Jumat, Idulfitri maupun Iduladha. Masjid tersebut memiliki panjang kurang lebih 40 meter dan lebar 30 meter. Fondasi bangunan masjid menggunakan tongkat dari jenis belian. Dulunya bagian bawah atau kolong masjid belum diberi dinding. Sekarang sudah disemen agar kolong tak terlihat. Sedangkan bagian lantai masjid masih menggunakan papan belian. Secara keseluruhan, masjid mampu menampung kurang lebih 800 orang jemaah.

Meski seiring berjalannya waktu, sudah banyak bagian masjid dilakukan perbaikan. Seperti atap masjid yang dulunya menggunakan atap sirap dari belian, kini telah menggunakan atap seng, tapi bentuk aslinya masih tetap dipertahankan. Bangunan masjid memiliki dua kubah, dengan atap paling atas berbentuk limas. Dimana di atas kubah terdapat tempayan kendi, yang masih dipertahankan. Bangunan masjid yang berwarna hijau tersebut, di setiap dinding memiliki satu pintu dan empat jendela yang berfungsi mengatur sirkulasi udara.

Demikian pula pada bagian ruangan lainnya yang tetap dipertahankan untuk menjaga keasliannya. Misalnya tiang atau pilar bangunan berjumlah empat buah termasuk motif dan bentuk daun pintu serta jendela masjid. Dinding bangunan juga masih menggunakan papan belian. Sedangkan atap masjid juga masih dipertahankan menggunakan atap sirap. Namun, bagian luarnya dilapisi dengan atap seng. Juga ditambahkan dek pada bagian tengah masjid. Agar, pantulan panas matahari tidak masuk ke dalam ruangan.

Dinding dan lantai, serta empat pilar di dalam masjid masih asli. Hanya atap dan tiang bawah masjid sudah dilakukan perbaikan. Dipertahankan tempayan kendi di atas kubah masjid karena ada amanah dari Panembahan Mohammad Taufik Akamadin, yang meminta tempayan kendi di atas kubah tetap dipertahankan. Bentuk bangunan juga tidak pernah di ubah sesuai dengan amanah dari Panembahan Mohammad Taufik Akamadin.

Source http://bujangmasjid.blogspot.com http://bujangmasjid.blogspot.com/2016/09/masjid-jamiatul-khair-kraton.html
Comments
Loading...