Masjid Agung Nurul Islam: Masjid Tua Dengan Latar Sejarah Unik

0 9

Masjid Agung Nurul Islam

Sawahlunto adalah 1 dari 7 kotamadya yang terdapat dalam wilayah administrative Provinsi Sumatera Barat. Sawahlunto juga merupakan sebuah kota tua yang dulunya bekas tambang batubara pertama sekaligus terbesar di Indonesia. Bekas-bekas kejayaan tambang kota ini masih dapat dilihat dari bangunan-bangunan bekas peninggalan pertambangan.

Ada Lubang Mbah Soero, Museum Goedang Ransoem hingga Museum Kereta Api, yang dahulunya menjadi stasiun pengangkut batubara ke Emmahaven (Teluk Bayur) di Padang. Ada satu lagi peninggalan kejayaan batu bara Sawahlunto, yaitu Masjid Agung Nurul Islam.

Masjid Agung Nurul Islam Sawahlunto adalah salah satu masjid tertua di Indonesia. Letaknya di Kelurahan Kubang Sirakuak Utara, Kecamatan Lembah Segar, Kota Sawahlunto. Lokasinya berjarak sekitar 150 meter dari Museum Kereta Api .

Sejarah Masjid Agung Nurul Islam

Bangunan masjid ini pada awalya merupakan pusat pembangkit listrik bertenaga uap (PLTU). Dibangun pada tahun 1894 semasa pemerintahan kolonial Hindia-Belanda. PLTU ini tenaganya memanfaatkan aliran Batang Lunto di Kubang Sirakuak sejak tahun 1894.

Namun mengingat debit air sungai yang berada di pinggir PLTU tersebut kian waktu terus berkurang, pemerintah Hindia-Belanda kemudian membangun PLTU pengganti di Salak, Talawi pada tahun 1924 yang memanfaatkan aliran Batang Ombilin. Bangunan PLTU di Kubang Sirakuak lama kelamaan menjadi tidak berfungsi lagi.

Seiring perjalanan sejarah, bangunan ini sempat dijadikan sebagai tempat perlindungan dan perakitan senjata oleh para pejuang kemerdekaan, semasa revolusi Indonesia. Sebelum akhirnya berubah menjadi masjid sejak tahun 1952. Sementara cerobong asapnya kemudian dijadikan sebagai menara dengan tambahan kubah setinggi 10 meter.

Sarana Ibadah, Pendidikan, dan Bukti Sejarah

Saat ini selain berfungsi sebagai tempat ibadah umat Islam, masjid berlantai dua ini juga digunakan sebagai sarana pendidikan agama bagi masyarakat sekitar. Bangunan utama masjid ini berukuran 60 × 60 meter dan memiliki satu kubah besar di tengah yang dikelilingi oleh empat kubah dengan ukuran yang lebih kecil.

Di dalam masjid, terdapat lengkungan pada selasar hingga memberikan nuansa seperti masjid pada umumnya. Ada delapan pilar yang menyokong kubah utama, serta lima pilar lain di depan dan empat pilar di bagian belakang ruangan.

Di bawah bangunan masjid terdapat lubang perlindungan. Yang mana dahulu tempat ini dipakai untuk tempat merakit senjata, granat tangan, dan mortir oleh pejuang kemerdekaan. Konon di sini ada lorong yang tidak pernah dibuka dan luasnya melebihi luas Masjid Agung Nurul Islam sendiri.

Sungguh menarik bukan? Selain umurnya yang lebih 1 abad, bangunan ini juga memiliki gaya arsitektur yang khas kolonial, sehingga sangat menarik untuk dikunjungi. Anda berminat berwisata ke Sawahlunto? Silahkan hubungi kami AET Travel, kami punya paket wisata kreatif dan inovatif dengan menonjolkan kekayaan parwisata Sumatera Barat, tentu saja Sawahlunto menjadi destinasi dalam paket kami.

Source https://aet.co.idhttps://aet.co.id https://aet.co.id/pariwisata/mengenal-sejarah-masjid-agung-nurul-islam-sawahlunto
Comments
Loading...