Makam Raja Tanjung Pura : Wisata Religi di Desa Tanjungpura

0 66

Makam Raja Tanjungpura

Makam Raja Tanjungpura terletak di Desa Tanjungpura yang jarak tempuhnya sekitar 35 Km dari pusat kota yaitu sekitar 1 jam perjalanan lewat darat. Apabila lewat air memakai speed board kurang lebih 30 menit dan memakai motor air 5-6 jam karena motor air tidak secepat speed board. Pada tempat ini terdapat makam raja-raja Tanjung Pura beserta para mentri dan pembesar-pembesar kerajaan ataupun keluarga kerajaan.

Sebelum sampai ke pemakaman, kita akan menemukan jalan yang terputus, jalan tersebut terputus karena ada rawa yang tergenang air, apabila musim penghujan atau air sungai pawan pasang, maka akan tergenang dan banjirlah jalan itu. Sehingga untuk melewatinya mesti memakai perahu sampan yang disedikan oleh masyarakat setempat dan memberi uang sebagai pembayaran jasa yang tidak cukup besar. Untuk mempermudah akses menuju makam dan daerah Tanjung Pura tersebut pemerintah telah berusaha untuk menutup rawa tersebut dengan menimbunya pakai tanah.

Namun menjadi omongan masyarakat dan rahasia umum, serta maha kuasa Allah SWT, ternyata walau sudah menghabiskan banyak kubik tanah untuk menimbunnya, rawa tersebut tidak juga dapat ditimbun, padahal luasnya tidaklah seberapa. Pasir yang dimasukan bertruk-truk besar jumlahnya, tetap saja tidak bisa di timbun. Bahkan tanah tersebut hilang tanpa bekas, tanpa diketahui.

Selanjutnya dibangunkan pula jembatan sebagai alternatif selanjutnya, namun lagi-lagi menjadi aneh tetapi nyata, ternyata ketika tiang-tiang penyangga jembatan hendak ditancapkan, terjadi keanehan, berapapun panjang tiang yang ditancapkan selalu saja terpendam dengan dalam, seolah-olah ada yang menariknya ke dalam tanah, lagi-lagi hilang tanpa berbekas. Ini adalah kisah yang sudah menjadi perbincangan masyarakat paada umumnya. Namun bisa saja srtuktur tanah tersebut memang labil atau ada faktor lain yang menyalahi dalam pekerjaannya. Hingga sekarang hal tersebut masih bersifat misteri.

 

Pada tahun 977 M berdasarkan kronik China Chu Fan Chi, Kerajaan Tanjung Pura sudah melakukan hubungan dagang dan diplomatik ke Kerajaan China semasa Dinasti Sung dengan mengirim tiga orang utusan. Orang-orangh berbangsa India, China, Arab, Eropa dan berbagai suku bangsa nusantara pernah mengunjungi bahkan menetap di Ketapang, yang dulunya dikenal dengan nama Tanjung Pura dan Matan. Begitu juga hubungannya dengan Malaka pada abad ke-15. Para pedagang dari Tanjung Pura disediakan petugas syahbandar khusus di pelabuhan Malaka demikian juga sebaliknya. Sebagaimana dicatat ahli obat-obatan Portugis, Tome Pires tahun 1512 M ketika singgah di pelabuhan pardagangan Malaka.

Ketika telah sampai untuk berziarah kesana, maka kita akan bertemu dengan seorang Ibu yang merupakan juru kunci makam yakni Buk Fardiah. Masuk ke makam tersebut, beliaupun mulai bercerita ditunjukannya makam Raja Tanjungpura yang bernama Sultan Muhhamad Jainudin Mursal, beliau adalah pemimpin (Raja) saat Agama Islam masuk ke Ketapang. Penyebar agama islam pertama ketika itu adalah Seykh Muhhamad Aminulah Al Maghribi dari Maroko, dan Imam Agung dari mekah ketika itu. Di lain tempat, ada tempat yang disebut dengan tempat suci dan bersih yang juga bagian dari kerajaan tanjungpura ketika itu yakni Taman Suci Sapu Jagat. Tempat ini ada kolam kecil, dan air dikolam tersebut biasa juga dimanfaatkan oleh warga setempat untuk diminum.

Air ini memang cukup aneh, karena walaupun kecil ukuran kolamnya walaupun kemarau panjang tidak pernah kering. Dan, tempat tersebut tidak perlu dibersihkan seperti makam raja tanjungpura karena tempat itu bersih dengan sendirinya, adapun daun-daun dari pohon-pohon sekitar persis tidak pernah berguguran. Air tersebut disebut warga air zam-zam ke empat, makanya dari jaman kerajaan sampai saat ini menjadi tempat orang-orang melakukan zikir, dsb. Pada saat jaman kerajaan si Raja setiap jum’at sembahyang ketempat tersebut, yang menurut ceritanya itu merupakan jalan menuju ke Mekah.

Ditempat ini kala orang beruntung saat melakukan zikir, akan melihat lobang yang kedalamnya ada tangga kecil terbuat dari emas terdiri dari dua tingkat, tingkat terakhirnya ada jalan menuju goa namun goanya gelap dan didepan goa tersebut ada orang yang memakai pakaian serba putih. Nah, jalan tersebutlah yang dikatakan jalan menuju mekah. Dan, orang yang sakti-mantraguna seperti raja dan yang lainnya ketika itu setiap jumat tadinya sembahyang ke mekah dari jalan itu, dan ambil air wuduk di air kolam tadinya. Air tersebut memang sangat bersih kalau kita ambil tidak ada kotoran sama sekali.

Pernah dilakukan oleh salah seorang Putera Ketapang bernama Hamzah Has (mantan wakil presiden), mengambil tersebut dimasukan ke dalam botol. Dan, sampai dimekah dibandingkan dengan air zam-zam, orang yang disana disuruh minum air yang dibawa dari Kalimantan tersebut, dan beliau minum air zam-zam. Memang tidak ada perbedaan dari kejernihannya sampai kerasanya, rasa air tersebut memang tidak sama seperti rasa air biasanya.

Source http://feriirawan-spdi.blogspot.com http://feriirawan-spdi.blogspot.com/2016/05/objek-objek-wisata-di-ketapang_12.html
Comments
Loading...