Lembah Torean di Lombok Utara

0 62

Torean merupakan salah satu jalur pendakian yang menjadi impian, tetapi masih dilarang, mengapa? Seorang penduduk sedang menggendong seorang lansia yang katanya akan menjalani ritual dan berobat di Segara Anak. Torean merupakan salah satu jalur pendakian yang menurut penduduk di Sekitar Rinjani adalah jalur terpendek untuk menuju Segara Anak. Jalur Torean sering digunakan oleh para penduduk atau pemeluk Agama Hindu untuk mengunjungi segara anak dengan tujuan memancing ikan dan sembahyang. TNGR tidak merekomdasikan jalur Torean karena medannya cukup sulit dan memiliki tingkat kesulitan yang lebih dibanding jalur Sembalun dan Senaru, selain itu juga untuk meminimalisasi kerusakan lingkungan dan kecelakaan.

Memang tidak mudah untuk mendaki lewat jalur Torean karena medannya sangat bervariasi. Jika lewat Sembalun akan melewati padang rumput yang luas dan hutan, begitu juga dengan Senaru tetapi yang pasti jalur sudah tertata dengan baik dan jelas. Jalur Torean akan melewati hutan, pinggiran lereng, menyeberang sungai dan harus memanjat jalur bebatuan yang curam dan tebing menganga siap menerkam dari bawah. Jalur Torean memang tidak untuk pendaki yang tanggung atau main-main. Ketidakramahan medannya acapkali membuat nyali ciut bahkan bisa menjadi penggabungan bukit penderitaan dan penyesalan. Butuh rencana yang matang, mental yang tangguh, dan kebaikan dari alam. Jalur yang jarang dilewati pendaki, walau sesekali ada penduduk lokal yang hendak naik turun menuju segara anak akan membuka jalur yang sudah tertutup semak belukar.

GPS sudah menyala sembari melirik jalur Sembalun dan Senaru yang tidak terlalu berbeda untuk urusan jarak tempuh. Berjalan pelan dari sebuah Dusun Torean, Desa Loloan, Kecamatan Bayan, Kabupaten Lombok Utara. Kebun penduduk dengan tanaman palawija mendominasi 1 jam pertama perjalanan. Setelah melewati sebuah sungai akan masuk dalam hutan primer yang masih rapat tutupan vegetasinya. Kanopi hutan begitu rapat seolah cahaya matahari hanya mengintip saja. Tetiba hujan turun rintik-rintik dan kelamaan tumpah membasahi seluruh badan. Dalam kondisi hujan tetap berjalan tanpa menemui pos-pos pendakian layaknya di jalur resmi.

Hampir 4 jam melewati lebatnya hutan dengan kontur naik turun. Psikis ini kadang diuji betapa beratnya medan ini karena sedari tadi belum keluar dari rapatnya vegetasi. Sebuan catatan awal pendakian dari ketinggian 600 mdpl, sedankan jalur Senaru berada di 1.150 mdpl dengan tujuan 2030 mdpl. Setengah hari saya nampak gusar dengan jalur pendakian lewat Torean yang sama sekali tidak memberikan kesempatan mata untuk melihat keindahan alam, selain lumut janggut (Usnea barbata) yang bergelantungan di dahan-dahan pohon yang mengesankan keangkeran. Suara primata menambahkan bahwa ini hutan belantara yang nyaris tidak tersentuh. Awal pendakian yang sepertinya membuat langkah ini tumbang di tengah jalan.

Source https://www.kompasiana.com https://www.kompasiana.com/dhave/torean-jalur-tradisional-menuju-puncak-rinjani_5768fed45397731b0882e748
Comments
Loading...