Kepulauan Sangihe, Kombinasi Unik Diving Spot, Sagu, Dan Orkestra Bambu

0 38

Ujung perbatasan negara Indonesia memiliki banyak potensi pariwisata yang terpendam. Sebut saja Raja Ampat yang terletak di pulau Irian Barat. Raja Ampat banyak dikunjungi oleh wisatawan asing maupun domestik. Begitu pula dengan Kepulauan Sangihe yang terletak di Minahasa Utara, Sulawesi Utara. Ada banyak potensi wisata, khususnya sebagai tempat ekowisata, yang dapat dikembangkan disini. Daerah dengan pesona yang terbentuk dari 105 pulau besar dan kecil. Kepulauan Sangihe masih belum banyak dilirik oleh para travellers.

Kondisi Geografis dan Masyarakat Kepulauan Sangihe

Secara geografis, Kepulauan Sangihe terletak diantara perbatasan Indonesia dan Filipina. Memiliki sekitar 79 pulau berpenghuni dan 29 pulau yang tidak berpenghuni. Posisinya terletak di antara Kabupaten Kepulauan SITARO dengan Pulau Mindanao (Republik Filipina). Akses menuju kesana pun cukup mudah. Pesawat menuju bandara Sam Ratulangi Manado, lalu mengambil taksi menuju Pelabuhan Manado, kemudian membeli tiket ke Pelabuhan Tahuna.

Asal mula kata Sangihe berasal dari kata ‘Sang’ dan ‘Ihe’. Konon sejarah masyarakatnya berasal dari beberapa kelompok suku pendatang, yang pada akhirnya berbaur menjadi suatu suku bernama Suku Sangihe. Diantaranya seperti suku Apapuang yang konon berasal dari Bangsa Negrito, suku Saranggani dari Mindanao, Kedatuan Bowentehu dan Manado Tua yang berasal dari Molibagu (Bolangitam).

Ekowisata, Budaya, dan Kuliner

Pantai-pantai yang eksotis lengkap dengan tempat diving yang nggak kalah indahnya. Contohnya Pantai Embuhahga yang perairannya jernih dan hamparan pasir putih yang lapang, Pantai Kasaraeng, Pantai Bado, Pantai Marahi, Salurang, Pantai Ria, Pantai Kahumata, Pantai Raja, dan masih banyak lagi.

Lalu, ada beberapa tempat diving yang dikelola oleh masyarakat setempat. Seperti tempat diving shipwreck yang unik serta indah di Pelabuhan Tua Tahuna dan tempat-tempat spot unik di sekitaran Batuwingkung dengan hamparan terumbu karang yang indah.

Selain pantai dan tempat diving yang indah, Sangihe terkenal akan orkestra musik bambunya. Alat-alat musik orkestra yang dimainkan, mulai dari terompet, klarinet, suling, hingga klarinet, semuanya terbuat dari bambu. Tradisi musik bambu ini sudah terkenal dari zaman nenek moyang terdahulu dan sering dimainkan di upacara-upacara adat dan pesta perkawinan.

Sangihe juga memiliki makanan khas sagu yang unik. Masyarakat setempat mengonsumsi sagu sebagai salah satu upaya difersifikasi pangan. Saat ini Sagu tidak hanya dikonsumsi dalam bentuk papeda (bubur sagu) namun juga diolah menjadi berbagai jenis bentuk seperti mi dan kue kering.

Perlunya dukungan pemerintah daerah

Melihat potensi wisata yang besar dan tidak kalah dengan Raja Ampat, Kepulauan Sangihe memerlukan dukungan pemerintah daerah. Tantangan ke depannya adalah bagaimana mengemas tempat wisata menjadi sebuah produk yang menjual, baik dalam segi brandingmaupun experience yang akan dirasakan oleh pengunjungnya. Selain itu, perlu ada pengelolaan sampah yang terpadu yang harus diimplementasi sehingga tidak mencemari pantai dan tubuh air lainnya.

Source https://yapeka.or.id https://yapeka.or.id/kepulauan-sangihe-ekowisata-kombinasi-unik/
Comments
Loading...