Keindahan Pancur Napitu, di Kota Asahan

0 17

Pancur Napitu

Pancur Napitu di temukan pada tahun 1833 oleh sekelompok masyarakat Batak saat membuka perkampungan Parhutaan Maria Gunung di Dusun I, Desa Gunung Berkat, Kecamatan Bandar Pulau, Kabupaten Asahan, Provinsi Sumatera Utara. Pancur Napitu arti nya 7 sumber mata air yang keluar dari batu. Meskipun saat musim kemarau mata air tersebut tidak pernah kering dan bila saat musim penghujan 7 mata air tersebut tetap mengeluarkan air yang jernih. Kejernihan mata ir tersebut melebihi kejernihan kaca, intensitas air dan dimensi kejernihan nya memanjakan mata bagi pengunjung dan tidak bosan-bosan untuk memandang nya secara berulang-ulang dan berdecak kagum atas kebesaran alam. Di lokasi inilah tempat masyarakat pertama kali nya mengibarkan sangsaka merah putih pada tanggal 17 Agustus 1945 selain daripada di Tugu Perjuangan Bandar Pulo.

Riwayat tidak penah mati di kalangan masyarakat Desa Gunung Berkat, bahwa Pancur Napitu memiliki legenda dari keajaiban Tongkat Sisingamanagaraja saat mengembara ke Desa Gunung Berkat atau Maria Gunung, hingga ke Desa Aek Nagali dan Sumur Sisisngamagaraja di Bandar Pasir Mandoge. Di sisi lain Pancur Napitu diyakini masyarakat Desa Gunung Berkat dimana 7 sumber mata air tersebut berasal dari alur bawah tanah Danau Toba, pasal nya setiap tahun nya warga sering menemukan sekampadi keluar dari sumber mata air tersebut.

Di sisi laen pameo masyarakat melegendakan 7 sumber mata air Pancur Napitu terjadi karena akibat pukulan tongkat sakti Raja Sisisngamangaraja saat rombongan mendirikan tenda peristirahatan dan sulit menemukan air bersih. Riwayat tersebut berkembang biak namun masih setakat pameo masyarakat belum ada penelitian khusus secara akademisi, namun masyarakat tetap menyakini dan menurunkan riwayat tersebut secara turun temurun hingga sampai sekarang.

Dan, sampai sekarang masyarakat menjadikan area Pancur Napitu menjadi objek wisata desa bersama keluarga sebagai tempat berkumpul nya para perantau dari dalam dan luar negeri untuk merekatkan silaturahmi. Para pelajar pun dan mahasiswa sering menjadikan objek wisata desa tersebut menjadi arena bermain bersama dari dalam dan luar daerah.

Mula nya Pancur Napitu sepi dari pemberitaan dan kunjungan wisata, namun tahun 2017 sekumpulan anak-anak Sekolah Menengah Pertama, SMA dan Mahasiswa Desa Gunung Berkat merenovasi Pancur Napitu dengan swadaya sendiri dan ramai di perbincangkan di media sosial. Camat Bandar Pulau Triharja, beserta Kepala Desa tidak ketinggalan ikut menjadikan tempat tersebut menjadi tujuan dalam pertemuan arisan para kepala desa serta kaur nya.

Pancur Napitu kini menjadi objek wisata desa bersama arti nya tidak berorientasi bisnis pariwisata melainkan di kembangkan secara bergotong royong oleh pemuda/i Desa Gunung Berkat dibantu dengan keterlibatan dan dukungan Kepala Desa Fery Samosir bersama tokoh masyarakat agar keindahan dan kejernihan mata air Pancur Napitu tetap lestari menjadi ikon Desa Gunung Berkat. “Setiap hari muda-mudi ramai berkumpul di Pancur Napitu kadang mereka minta bantuan kita beri walau masih setakat alakadar nya, namun yang pasti kita support kegiatan mereka untuk hal-hal yang positif,”terang Fery Samosir. Di sekitar Pancur Napitu masih di tumbuhi hutan alam asli bertaut dengan Daerah Aliran  Sungai (DAS) Aek Sakkur.

Namun masih banyak yang harus di tata agar Pancur Napitu dapat di jadikan tempat arena Kemah Bersama dan di bangun jalan terasering untuk pondok panjang tempat pertemuan para Kader Konservasi dan Pramuka melihat potensi sumber mata air jernih dan dengan pepohonan hutan yang masih asli yang tidak berstatus kawasan hutan. Desa Gunung Berkat sama hal nya dengan Maria Gunung, di ujung desa tersebut terdapat dusun Pargambiran dan tembus ke Pasar Belanda kawasan Hutan Lindung Tormatutung 1/A. Pada tahun 2006 kami bersilaturahmi ke rumah seorang tokoh masyarakat yang bergelar Tuan Guru Alm. Syeikh Khalipah Makmur Marpaung bersama Bakhtiar Marpaung. Almarhum menceritakan bahwa Gunung Berkat merupakan tempat persembunyian para gerilyawan pejuang kemerdekaan RI dan beliau salah satu ikut di dalam nya terlibat dalam menentang aksi penjajahan Belanda.

Pasar Belanda biasa disebut oleh masyarakat dengan Pasar Toba karena menghubungkan ke Meranti, Halado, Pintu Pohan Kabupaten Tobasa. Namun Pasar Toba tersebut kini telah musnah akibat kekejaman izin koridor yang melenceng oleh salah satu perusahaan. Dan, Gunung Berkat atau Maria Gunung merupakan pasar lintasan masyarakat pedagang Toba atau pasar Pangallung menuju Tanjung Balai. dan Tidak Jauh dari Gunung Berkat di temukan Tugu Ibu Simardan dan di Pasar Belanda ujung Pargambiran di temukan makam adik Simardan bernama Sitiomina.

Setiap hari Pancur Napitu ramai di kunjungi orang walau masih berbasis lokal namun Pancur Napitu menjadi tempat berkumpul para sanak saudara Desa Gunung Berkat dari dalam dan luar daerah guna mempererat tali silaturahmi yang masih kental dengan adat budaya batak yang di kenal dengan Dalihan Natolu. Dahulu Aek Sugapa di Pargambiran yang menjadi arena rekreasi desa Gunung Berkat. Sudah tidak asing bagi masyarakat kumpul dan makan bersama dengan makanan yang biasa di sebut holat dan limas. Holat dan Limas ciri khas masakan adat budaya batak yang tetap di lestarikan oleh masyarakat Desa Gunung Berkat.
Source http://www.rimbanauli.com http://www.rimbanauli.com/2017/09/pancur-napitu-merah-putih-alur-danau.html
Comments
Loading...