Kebun Raya Banua

0 59

Sejak tahun 2011, pusat roda pemerintahan Propinsi Kalimantan Selatan secara bertahap dipindahkan dari Kota Banjarmasin ke daerah Cempaka, Kota Banjarbaru, geliat pembangunan di kawasan terpadu komplek perkantoran provinsi dengan luas lahan sekitar 500 hektar dengan total lahan yang dipersiapkan oleh Pemko Banjarbaru mencapai 2.000 hektar, terbagi dalam 3 zona atau ring 1 sampai ring 3 tersebut semakin terlihat bentuk konfigurasinya yang luar biasa indah.

Tidak hanya wujud bangunan fisik dari kantor gubernurnya saja yang terlihat cantik, artistik dan megah mengusung tema rumah adat Banjar Bubungan Tinggi, tapi konsep tata ruang komplek perkantoran Provinsi Kalimantan selatan yang mengusung tema “hijau” tersebut, sepertinya tidak hanya berhenti pada ranah konsep semata. Walaupun masih terus melakukan penyempurnaan untuk menemukan aplikasi tata ruang “hijau” paling ideal, setidaknya dari wujud fisik yang sudah ada telah memberi gambaran keseriusan pemerintah untuk menjadikan konsep “hijau” sebagai nafas dari pembangunan “prestisus” yang dimulai sejak tahun 2009 tersebut.

 

Salah satu angin segar yang dihembuskan dari komplek perkantoran yang pembangunannya menelan biaya ratusan milliar tersebut adalah ide cerdas pemerintah untuk membangun “Kebun Raya Banua”,wahana  konservasi alam sekaligus kawasan wisata, pendidikan dan jasa lingkungan yang lokasinya masih di dalam lingkungan komplek Perkantoran Provinsi Kalimantan Selatan. Ide cerdas ini selain menjawab panasnya isu degradasi lingkungan di Kalimantan Selatan yang semakin memprihatinkan, juga menjadi hembusan angin surga yang benar-benar menyegarkan bagi masyarakat, khususnya di Banjarbaru dan Kalimantan Selatan.

Kawasan “Kebun Raya Banua” yang diplot menempati area seluas 100 hektar, tepat di seberang kantor gubernur ini diproyeksikan menjadi wahana wisata lingkungan yang terbesar, terluas dan terlengkap di Kalimantan, sekaligus sebagai tempat penyelamatan, pengembangan dan perlindungan berbagai tanaman lokal khas daerah Kalimantan Selatan, seperti pohon kayu besi atau Kayu Ulin (Eusideroxylon zwageri) yang laju kepunahannya semakin tinggi akibat degradasi lingkungan yang semakin memprihatinkan. Begitu juga dengan beberapa spesies pohon buah yang sudah langka dan telah dinyatakan punah di habitat alaminya, seperti pohon buah Kelangkala (Litsea angulata)Binjai (Mangifera caesia) dan Kasturi (Mangifera casturi)  dan lain-lain.

“Kebun Raya Banua” saat ini telah memiliki aneka koleksi tanaman langka sekitar 3.000 pohon yang didapatkan dari berbagai sumber, seperti perusahaan swasta, organisasi pecinta lingkungan, bantuan pemerintah, termasuk dari sumbangan koleksi dari masyarakat perorangan. Untuk menambah koleksi, pihak pengelola “Kebun Raya Banua”  terus berburu koleksi tanaman ke berbagai daerah di Kalimantan Selatan, termasuk daerah-daerah ujung yang masih mempunyai ekosistem hutan dengan koleksi tanaman yang relatif lengkap seperti Kabupaten Balangan, Tanah Bumbu, Tabalong, Tanah laut dan Kotabaru.

Selain itu, pengelola juga sangat berharap adanya peran serta masyarakat, khususnya warga Kalimantan Selatan untuk ikut serta menyumbangkan koleksi tanaman ke  “Kebun Raya Banua”. Koleksi tanaman dari masyarakat nantinya akan didaftar dan diregistrasi untuk mendapatkan KTP alias Surat Keterangan Pohon yang berisi data rekam jejak asal-usul pohon. Program ini mungkin mirip dengan strategi yang dilakukan oleh GREEN PEACE, melalui progam Babytreesyang berhasil mengajak masyarakat untuk menanam sekaligus menjaga dan merawat pohon-pohon yang ditanamnya seperti anak sendiri, sehingga diharapkan bisa tumbuh dengan baik dan sehat agar bisa memberi manfaat kepada alam semaksimal mungkin.

Dari total area seluas 100 hektar, saat ini baru sekitar 30 persen yang sudah ditanami berbagai tanaman sesuai dengan ploting areanya, Untuk tanaman pepohonan (langka), rata-rata usia tanam mereka baru sekitar 3 tahun, sehingga pohon-pohon tersebut masih belum bisa memberi naungan dan keteduhan dari cuaca sekitar yang panas.

Untuk tanaman anggrek, Pulau Kalimantan juga dikenal sebagai salah satu daerah yang meyimpan banyak spesies endemik, seperti anggrek sendok (Spathoglottis Urea)Anggrek hitam(Coelogyne pandurata), Anggrek Kantung (Paphiopedilum Kolopakingii Fowlie) dll. Khusus di Kalimantan Selatan pegunungan Meratus dikenal sebagai salah satu habitat anggrek Kalimantan paling kaya. Sayangnya, karena perburuan liar dan degradasi lingkungan yang semakin masif mengakibatkan ikut punahnya beberapa spesies anggrek-anggrek langka tersebut.

Anggrek Kalimantan merupakan salah satu tanaman eksotis yang harus dilindungi dan dilestarikan. Untuk itulah pengelola  “Kebun Raya Banua” terus berpacu dengan waktu untuk melengkapi koleksi tanaman anggrek Kalimantan dengan berburu koleksi di berbagai tempat, termasuk di pasar-pasar penjual anggrek hutan di daerah. Ada yang berminat ikut serta membantu? Melihat langsung progres pembangunan “Kebun Raya Banua” di Banjarbaru yang terus tumbuh dan berkembang, memberikan keyakinan akan masa depan tanah Kalimantan yang kembali hijau dan segar! Semoga.

Source https://www.kompasiana.com https://www.kompasiana.com/kaekaha.4277/5782865a327b615c0a962183/kebun-raya-banua-angin-segar-baru-untuk-pelestarian-flora
Comments
Loading...