Hamparan Sawah Tana Toraja Yang Menawan

0 98

Hamparan Sawah Toraja

Tidak kurang dari 20 turis asal Israel menikmati suhu udara yang dinginnya sekitar 20-22ᵒC di penghujung Juli lalu. Rombongan turis dengan usia di atas 40 tahun itu datang ke Tana Toraja karena tertarik menyaksikan upacara kematian atau “Rambu Solo”. Guyuran hujan sepanjang hari tak menghalangi mereka mengikuti ritual Rambu Solo meski di perbukitan.

Selain mengikuti beberapa upacara pemakaman ala Toraja yang biasanya dilakukan di perbukitan, wisatawan asing itu pun mengunjungi Desa Kete Kesu, desa tertua yang berumur 700 tahun, di Toraja. Ciri utama rumah adat Toraja adalah tanduk kerbau yang terdapat di depan tongkonan.

Obyek wisata yang biasanya dikunjungi adalah Situs Megalith Kalimbuang Bori. Sementara londa adalah tempat perkuburan dinding batu dan patung (tau-tau) yang di dalamnya terdapat goa dengan banyak tengkorak kepala manusia. Obyek wisata londa berada di Desa Sandan Uai, kecamatan Sanggalangi, atau sekitar 7KM dari Rantepao. Tau-tau adalah pertanda jumlah putra Toraja terbaik telah dimakamkan melalui upacara tertinggi di wilayah Tallulolo.

  

Ritual Rambu Solo dan berkunjung ke londa, Kete Kesu, serta batu Megalith di Kalimbuang Bori hanya segelintir dari banyak upacara adat di daerah penghasil kopi tersebut. Daerah ini juga memiliki sekitar 25 obyek wisata bagus lainnya. Saat itu, beberapa kegiatan akbar pun digelar untuk menarik wisatawan datang ke Toraja. Salah satunya adalah perayaan 100 tahun Injil masuk Toraja.

Ribuan orang datang dari seantero Indonesia untuk terlibat dalalm rangkaian upacara yan digelar di Makale (Tana Toraja) dan Rantepao (Toraja Utara). “Toraja benar-benar indah, udaranya sejuk. Tanpa ada embel-embel menghadiri acara pun, tak rugi berkunjung ke daerah ini.” Demikian komentar Helena (48), asal Bandung, di tengah dinginnya udara di Toraja.

Hamparan sawah dengan latar belakang pegunungan serta rumah tradisional tongkonan berdiri megah menjadi pemandangan indah. Rumah penduduk yang umumnya berdekorasi unik dengan atap khas Toraja digunakan sebagai tempat menyimpan hasil panen, tempat penyembelihan hewan kerbau dalam upacara kematian, atau sekadar untuk bercengkerama dan berbincang-bincang.

Menakjubkan

Panorama paling indah adalah saat berada di Batutumonga di lereng Gunung Sesean. Gunung Sesean, gunung tertinggi di Toraja, menjadi lokasi terbaik untuk menyaksikan keindahan Tana Toraja dari ketinggian, termasuk panorama Kota Rantepao. Batu Mongga berada sekitar 1.300 meter dpl.

Tana Toraja, menurut Stanislaus, merupakan sebuah wilayah pedalaman yang penduduknya pada umumnya hidup dari hasil pertanian dan perkebunan seperti padi, cokelat, cengkeh, dan kopi. Kopi arabika dari Tana Toraja sudah lama dikenal sebagai salah satu yang terbaik di dunia.

Daerah Tanah Toraja terletak di wilayah pegunungan tengah Provinsi Sulawesi Selatan dengan luas 3.207 Km₂ atau sekitar 5% dari luas keseluruhan Sulawesi Selatan. Secara administrative, sejak Juni 2008, Tana Toraja resmi menjadi dua kabupaten, yakni Kabupaten Tana Toraja dan Kabupaten Toraja Utara.

Apalagi di penghujung tahu ada Lovely December. Pelancong yang datang ke daerah penghasil kopi ini luar biasa banyak karena berbagai kesenian daerah dipertontonkan. Tidak hanya kegiatan seni dan budaya, pelaku usaha local pun memanfaatkan masa itu untuk promosi hasil kreativitas mereka, seperti kain tenun dan makanan khas Toraja.

Berbagai ritual di Toraja ditambah panorama alam yang luar biasa bagus dan sangat alami dapat menarik turis. Paling tidak, dengan kondisi jalan mulus meski sempit, lama tinggal pelancong dari sejumlah Negara tidak Cuma tiga hari, tetapi bisa sepekan. Betapa kurang puas jika ke Toraja hanya sekejap karena panorama alamnya benar-benar membuai untuk tinggal berlama-lama di daerah penghasil kopi paling enak itu.

Source http://avonturguide.blogspot.com http://avonturguide.blogspot.com/2016/04/sawah-di-toraja-pun-sungguh-menawan.html
Comments
Loading...