Gunung Lompobattang

0 123

Gunung Lompobattang, dalam bahasa Makassar, berarti Gunung Perut Besar. Hal itu terdiri dari dua kata yang menyusunnya, yaitu lompo dan battang. Lompo berarti besar, sedangkan battang berarti perut. Nah, gunung dengan julukan yang unik ini merupakan salah satu gunung tertinggi di Sulawesi Selatan, yaitu 2.874 mdpl, dan berdekatan dengan Gunung Bawakaraeng. Gunung ini bisa menjadi pilihan Momopal jika berkunjung ke daerah Gowa.

 

Untuk mendaki Gunung Lompobattang, Momopal akan melalui sepuluh pos pendakian dan dari satu pos ke pos lainnya memiliki jalur pendakian yang berbeda. Momopal akan melewati perkebunan warga di awal pendakian, kemudian berganti menjadi semak belukar dan mulai masuk ke dalam hutan, tanda Momopal sudah berada di kaki gunung ini. Namun, sumber air hanya ada di pos-pos awal pendakian sehingga perhitungan kebutuhan air yang baik sangat Momopal perlukan agar tidak kehabisan air selama pendakian.

Di pos-pos tengah pendakian, Momopal akan menaiki dan menuruni puncak bukit, salah satunya Puncak Assumpolong. Jalur-jalur rata dan terjal juga akan mewarnai pendakian Momopal menuju pos-pos terakhir pendakian. Sampai di pos sembilan, Momopal bisa mendirikan tenda dan bermalam di pos ini karena dekat dengan sumber air dan hanya 30 menit lagi menuju puncak.

Menuju pos sepuluh atau puncak adalah jalur pendakian paling sulit yang akan Momopal lalui. Momopal akan melewati tanjakan terjal berupa batu-batu besar, sedangkan di kanan dan kiri merupakan jurang yang dalam. Jangan lupa menggunakan tali webbing untuk membantu melewati tanjakan ini karena bebatuan itu sangat licin.

Sampai di puncak Gunung Lompobattang, Momopal bisa menikmati hijaunya barisan pegunungan dan kota Makassar yang tampak dari kejauhan. Jika Momopal berhasil sampai di puncak saat matahari baru terbit, Momopal akan menikmati warna jingga yang mewarnai langit ditemani dengan lapisan-lapisan awan.

Beberapa tahun sebelumnya, Gunung Lompobattang dan Gunung Bawakaraeng, yang bersebelahan, sering dikunjungi oleh masyarakat Bugis untuk menjalankan salat Idul Adha. Mereka percaya bahwa kedua gunung ini merupakan simbol dari Mekkah dan Madinah sehingga menjalankan salat Idul Adha di kedua puncak gunung ini memiliki nilai pahala yang sama dengan beribadah haji di dua kota di Arab Saudi itu. Namun, tradisi tersebut dilarang pemerintah setempat karena dapat membahayakan masyarakat yang tidak siap fisik dan mental untuk mendaki gunung.

Source http://journal.momotrip.co.id http://journal.momotrip.co.id/index.php/2017/01/30/jalur-pendakian-beragam-di-gunung-lompobattang/
Comments
Loading...