Gunung Halau-Halau 1901 MDPL, Puncak Tertinggi di Kalsel yang Eksotis

0 22

Gunung Halau-Halau

Keindahan Gunung Halau-Halau 1.901 MDPL merupakan bukti nyata pesona alam Indonesia. Puncak gunung tertinggi di Kalimantan Selatan dari sekian banyak deretan pegunungan Meratus ini sangat sayang jika dilewatkan begitu saja dalam rangkaian perjalan pendakian Anda. Gunung Hauk 1.325 MDPl, Atap Tertinggi di Balangan saja sudah seru dan menyenangkan untuk didaki. Apalagi gunung di kampung Kiyu ini tentu menawarkan sensasi pendakian yang lebih mengesankan.

Lokasi : Gunung Besar atau Gunung Bantai (Besar = Bantai, bahasa setempat), atau masyarakat Dayak Meratus lebih sering menyebutnya dengan sebutan Gunung Halau-Halau ini terletak di Kampung Kiyu, Desa Hinas Kiri, Kecamatan Batang Alai Timur, Kabupaten  Hulu Sungai Tengah, Kalimantan Selatan. Secara geografis lokasinya mencakup tiga perbatasan kabupaten sekaligus, yaitu Kabupaten Hulu Sungai Tengah (HST), Hulu Sungai Selatan (HSS) dan Tanah Bumbu.

 

Namun jika sedikit ke arah Tenggara sudah masuk wilayah Kabupaten Kotabaru. Untuk mencapainya, apabila Anda dari Banjarmasin atau kota lainnya, Anda terlebih dahulu harus menuju Kota Barabai (HST) yang merupakan akses termudah menuju kampung Kiyu (kampung terkahir di kaki Gunung Halau-Halau). Rutenya: Barabai – Birayang, Desa Batu Kambar – Desa Hinas Kiri – Kampung Kiyu.

Jalur Pendakian Gunung Halau-Halau

Segala keindahan Gunung Besar Halau-Halau dapat Anda dan kawan-kawan nikmati dengan melakukan pendakian hingga puncaknya. Pendakian puncak Halau-Halau bisa dibilang sangat menantang, karena benar-benar hutan belantara yang akan Anda lewati. Berikut ini adalah sedikit gambaran jalur pendakian menuju puncak Gunung Besar Halau-Halau. Waktu normal pendakian menuju puncak Halau-Halau dan menruninya kembali dibutuhkan waktu 3 malam 4 hari dengan mmelewati beberapa shelter atau basecampe yaitu dariKampung Kiyu –Tiranggang – Sungai Karuh – Jumantir – Simpang Tiga Haraan – Lembah Cirit – Penyaungan – Puncak.

Kapung Kiyu – Peniti Ranggang (Tiranggang) – Sungai Karuh

Dari Kampung Kiyu menuju Tiranggang setidaknya menghabiskan waktu 3-4 jam perjalanan, jalan yang akan dilewati terbilang belum terlalu menanjak namun cukup menguras tenaga untuk yang baru mendakinya. Saat di Tiranggang yang merupakan shelter 1, areanya cukup luas dan datar sehingga nyaman untuk beristirahat sejenak. Dan apabila Anda beruntung, saat di sana Anda akan menjumpai warung milik warga setempat yang menjual beraneka macam jajanan/ makanan. Namun biasanya warung tersebut hanya buka di waktu-waktu tertentu saja, pada bulan agustus misalnya. Pada bulan itu Gunung Halau-Halau ramai oleh pendaki yang akan mengibarkan bandera Merah Putih dalam memperingati Hut RI.

Tiranggang – Sungai Karuh

Setelah dari Tiranggang, perjalanan dilanjutkan kembali menuju shelter 2 yaitu Sungai Karuh yang kira-kira akan membutuhkan sekitar 3 jam perjalanan kaki melangkah. Sungai Karuh biasa dijadikan para pendaki sebagai tempat camp pertama di hari pertama pendakian.  Medannya dari Tiranggang terbilang tidak terlalu berat, karena dominan menurun dan banyak anak sungai. Hanya saja dari Tiranggang menuju Sungai Karuh ini sudah banyak dijumpai binatang lintah atau pacat (binatang penghisap darah). Waspada ya! Berkemah di Sungai Karuh merupakan solusi tepat untuk mengisi tenaga melanjutkan perjalanan menuju puncak keesokan harinya. Bareng-bareng memasak perbekalan, seduh kopi dan membuat api unggun akan sangat mengesankan.  

Area camp di Sungai Karuh cukup luas dan kontur tanahnya datar, puluhan tenda bisa Anda dirikan di sana. Jika Anda malas untuk mendirikan tenda, tidur di dalam gubuk atau rampa yang disediakan warga sekitar bisa Anda lakukan. Tihang-tihangnya juga bisa lho digunakan sebagai penyangga untuk menggantung hammock. Seru bukan? Lokasinya juga dekat dengan mata air, sekitar 15 meter dari gubuk agak menurun sedikit terdapat sebuah sungai yang mengalir. Airnya sangat jernih dan bisa dimanfaatkan untuk berbagai keperluan. Seperti memasak, mandi, untuk bekal, dan sebagainya.  

Selain di puncaknya, keindahan Gunung Halau-Halau yang jadi favorit para pendaki ternyata juga ada di kawasan Sungai Karuh ini lho. Daya tariknya adalah air terjun setinggi 60 meter yang tak jauh dari gubuk/ rampa, jaraknya sekitar 90 meter. Anda bisa menikmati air terjunnya dengan bermain air, mandi atau berendam dan tentunya berfoto ria. Biasannya baik sebelum menuju puncak maupun saat menuruni puncak para pendaki pasti meyempatkan bermain di air terjun yang cantik satu ini.

Sungai Karuh  – Jumantir  – Simpang Tiga Haraan  – Lembah Cirit  – Penyaungan  – Puncak

Nah, setelah tenaga cukup kembali terisi. Dari Sungai Karuh perjalanan menuju puncak setinggi 1,901 MDPL ini kembali dilanjutkan. Perlu Anda ketahui, jalur pendakian yang akan Anda lewati semakin terjal. Jalan yang berlumut karena lembab, turun naik anak bukit dengan pohon-pohon besar samping kiri kanannya akan semakin sering Anda lewati, bahkan tak jarang Anda akan meniti pohon yang besar bekas tumbang. Dan yang membuat geli yaitu populasi binatang pacat yang semakin banyak. Gigitan pacat tak terasa sakit, soalnya saat mengisap ia mengeluarkan zat anestesi sehingga saraf kita tak merasakan efek gigitannya. Tahu-tahu darah sudah banyak terisap. Geli + Ngilu!

Sungai Karuh – Jumantir

Dari Sungai Karuh untuk menuju Jumantir dibutuhkan waktu kurang lebih 2 jam. Di Jumantir, Anda bisa beristirahat sebentar untuk melemaskan otot-otot yang pegal atau sekedar untuk mengisi perbekalan air untuk keperluan di jalan menuju Simpang Tiga Haraan, Lembah Cirit dan Penyaungan sebagai sumber mata air terkahir sebelum sampai puncak.

Jumantir  – Simpang Tiga Haraan

Next, dari Jumantir menuju Simpang Tiga Haraan (persimpangan menuju puncak Halau-Halau dari jalur Kampung Kiyu (HST) dan Loksado (HSS). Medan pendakian sudah pasti semakin menguras tenaga, cuaca dingin pun akan semakin terasa. Nah, saat menuju shelter Simpang Tiga Haraan ini, dipertengahan jalannya Anda juga akan menjumpai view favorit pendaki Halau-Halau yakni “Pintu Gerbang”. Pintu Gerbang tersebut ditunjukkan untuk sebuah pohon kariwaya besar (sejenis pohon beringin yang berakar besar dan tinggi). Bentuk batang pohon kariwaya tersebut sangat unik, yakni seperti pintu gerbang yang di tengahnya berlubang besar dan bisa dilalui manusia.

Oleh masyarakat Dayak yang bermukim di sekitar pegunungan meratus ini, sejak dahulu pohon kariwaya yang di samping kanan dan kirinya ditumbuhi semak belukar yang lebat tersebut sangat dikermatkan.

Walaupun terkesan mistik, apabila kita sopan kemungkinan besar tidak ada sesuatu kejadian aneh/ horor kok di sana. Bahkan biasanya para pendak selalu menyempatkan untuk berfoto-foto di “Pintu Gerbang” puncak Halau-Halau tersebut. Hasil fotonya keren lho!

Jumantir sudah dilewati, “pintu gerbang” juga sudah maka sampailah di Simpang Tiga Haraan tadi. Anda bisa beristirahat sejenak di kawasan ini, lokasinya cukup luas, teduh dan datar cocok untuk beristirahat memasak sebelum melanjutkan menuju Lembah Cirit, Penyaungan dan puncak.

Simpang Tiga Haraan – Lembah Cirit

Lanjut menuju Lembah Cirit, lembah ini biasa digunakan para pendaki untuk mengisi persedian air untuk keperluan di puncak. Untuk mengisi air di lembah ini Anda harus menuruni lembahnya. Sebenarnya di shelter terakhir yakni Penyaungan juga ada sumber mata air, hanya saja mata air di sana seing kering. Sehingga untuk berjaga-jaga sebaiknya isi air di Lembah Cirit ini saja.

Lembah Cirit – Penyaungan

Dari Lembah Cirit lanjut lagi menuju Penyaungan yang kira-kira menghabiskan waktu kurang lebih 1 jam pendakian. Pendakian melelahakn semakin terasa, mendaki bak merangkak harus Anda lakukan karena tanjakannya yang kian curam. Okay! Sesampianya di Penyaungan berarti jarak Anda dengan puncak sudah tidak jauh lagi.  Juga hanya menghabiskan waktu sekitar 1 jam mendaki. Disarankan sebaiknya untuk istirahat dulu, karena dari shelter terkahir inilah titik pendakian terberat akan dimulai. Udara dingin semakin menusuk, jalan dominan licin karena banyak dilapisi lumut tebal dan bahkan sebelum menuju puncak ada tanjakannya yang dinamakan “Tanjakan Penyesalan”. Beberapa puluh meter sebelum mencapai puncak, jalan yang harus Anda lewati hanya jalan setapak yang terjal dengan kedua belah sisinya jurang.

Keindahan Gunung Halau-Halau

Sebagai Gunung yang merupakan “atap” tertinggi Kalsel, pemandangan puncaknya tentu tidak diragukan lagi. Hamparan gumpalan awan yang sejajar dengan kaki bak “negri di atas awan”, pemandangan sunrise dan sunsite yang sama-sama memukau, pemandangan hijau dan kaya-nya hutan belantara meratus dapat Anda saksikan dengan tenang sembari menikmati udara sejuknya. Berfoto dengan pose apapun rasanya tetap menghasilkan jepretan ciamik dengan landscape sekeren di Gunung Halau-Halau ini. 

Suasana puncaknya mampu menjernihkan hati dan pikiran akibat rutinitas sekaligus cocok untuk melepas rindu dengan alamSaat malam hari walupun udaranya kian malam kian dingin, Anda masih bisa menikmati keindahan bulan dan taburan bintang serta nyala lampu di bebarapa titik kota dari kejauhan. Sambil menikmati moment ini, Anda bisa berbincang menjalin persahabatan dengan pendaki lainnya sehingga akan menambah pengalaman mendaki yang seru dan  berkesan. Nah, untuk Anda yang ngakunya pecinta wisata alam mendaki, mumpung sedang di Kalimantan Selatan jangan ditunda lagi untuk menjelajah Gunung Besar Halau-Halau yang eksotis ini. Yaakaaan!

Fasilitas di Gunung Halau-Halau

Mengenai fasilitasnya, terbilang minim hanya saja cukup memadai untuk keperluan penting. Sudah tersedia tempat bermalam dan tempat parkir di rumah Mama Dinur yang terkenal sangat ramah. Selain itu juga sudah tersedia warung untuk membeli kebutuhan makanan dan minuman untuk sekedar ngemil atau menambah perbekalan, hanya saja tidak terlalu lengkap.

Tips Berwisata di Gunung Halau-Halau

  1. Persiapkan fisik yang benar-benar fit.
  2. Sebelum melakukan pendakian, wajib melapor dan meminta izin terlebih dahulu kepada tutuha di sana.
  3. Bantu untuk menjaga kealamian gunung Halau-Halau dengan tidak merusak keindahannya dalam bentuk apapun. Seperti tidak membuang sampah sembarangan, tidak merusak pepohonan, mencoret batu-batu dan sebagainya.
  4. Karena Gunung Halau-Halau dikeramatkan oleh warga Dayak yang bermukim di sana, sebaiknya jaga kesopanan Anda saat berwisata di gunung Halau-Halau. Dan 3 Peraturan ini wajib Anda patuhi ketika mendaki Gunung Halau-halau.
  5. Suhu udara di puncak Halau-Halau juga terkenal sangat dingin, sebaiknya bawa SB (Sleping Bag) dan pakaian hangat lainnya.
  6. Persiapkan perlatan berkemah yang memadai juga perlatan P3K.
  7. Seperti yang kita ketahui, jalur pendakian Halau-halau memang terkenal banyak binatang lintah atau pacat jadi sebaiknya gunakan lotion khusus untuk dioleskan ditubuh yang terbuka agar meminimalisir akan digigitnya atau untuk mmembantu melepaskan dari gigitan pacat tersebut.
  8. Ambil foto sebanyak-banyaknya dari jalur awal pendakian hingga puncak dan saat menuruninya kembali sebagai kenang-kenangan atau tanda bahwa Anda sudah pernah mendaki Halau-Halau.
Source https://janganlupapiknikk.blogspot.com https://janganlupapiknikk.blogspot.com/2018/02/gunung-halau-halau-1901-mdpl-puncak.html
Comments
Loading...