Gunung Bondang Kalimantan Tengah

0 177

Gunung Bondang adalah sebuah gunung yang terletak di Kabupaten Murung Raya, Kalimantan Tengah, Indonesia. Secara administratif mencangkup Desa Kolam dan Desa Saruhung di Kecamatan Tanah Siang. Gunung Bondang memiliki 5 puncak yaitu Puncak Karewa dengan ketinggian 1.410 Mdpl dan Puncak Lapak Pati setinggi 1.400 Mdpl.

Gunung Bondang adalah sebuah gunung tertinggi di daerah Kalimantan Tengah setelah Bukit Raya, gunung adat yang masih sangat kental dengan kepercayaan warga sekitarnya. Bukan sembarang orang desa sekitar yang mampu mencapai puncak gunung tersebut, jika Ia berusia kurang dari 40 tahun maka tidak diperkenankan padanya untuk mendaki Gunung Bondang sampai ke puncak.

Jika orang tersebut tetap memaksakan untuk naik maka berbagai penyakit akan ada pada dirinya, misalnya infeksi karena gigitan lintah atau penyakit demam yang bisa membuat dirinya sendiri atau mungkin anggota keluarganya meninggal. Tapi itu merupakan kepercayaan orang-orang tua dayak siang, bagi pemudanya banyak yang tidak percaya lagi akan mitos tersebut. Beberapa dari mereka merupakan guide untuk para peneliti dan mahasiswa untuk mendaki gunung Bondang, dan beberapa pemudanya adalah suku dayak siang yang sudah tidak percaya tentang adanya mitos tersebut. Mereka tetap mendaki dan selamat.

 

Dikisahkan oleh seorang kakek yang dituakan di desa Saruhung, bukan kepala adat tapi orang dayak siang asli yang sempat melakukan ritual kecil sebelum kami memasuki hutan. Tujuannya agar kami semua selamat sampai kami kembali pulang, ibaratnya kami meminta ijin kepada yang sudah tinggal dan menetap di hutan. Kakek Aming namanya, kakek bercerita tentang asal mula gunung Bondang. Pada masa dahulu kala gunung Bondang tingginya sampai menjulang ke langit, gunung Bondang merupakan tangga penghubung antara langit dengan bumi waktu itu. Di langit hiduplah beberapa Dewa dan Dewi, Dewi yang jahat bernama Ajudahari. Ia gemar sekali memakan manusia yang ada di bumi, jika Ia melihat manusia berjalan di sekitar gunung Bondang maka diambillah manusia itu kemudian dimakannya dengan lahap.

Melihat hal itu Dewa baik yang bernama Bondang dan saudara perempuannya yang bernama Buro kasihan terhadap manusia yang ada di bumi, maka mereka pun menyusun rencana agar Ajudahari tidak lagi memakan manusia. Mereka akhirnya membagi tugas, Bondang bertugas mengalihkan perhatian si Ajudahari dan secepat mungkin Buro memukul gunung Bondang hingga tak terjangakau lagi oleh langit. Kini tinggi gunung Bondang hanya 1424mdpl, sejak saat itu si Ajudahari tidak bisa lagi memakan manusia bumi. Konon katanya air liur Ajudahari menetes ke bumi setiap kali dirinya melihat manusia, dan dari air liur itulah tercipta berbagai binatang penghisap darah. Seperti lintah atau yang lebih dikenal dengan kata pacet, lebah, nyamuk, bahkan ular piton.

Mungkin tinggi gunung Bondang memang tidak seberapa tinggi jika dibandingkan dengan gunung-gunung yang ada di Jawa, tapi jangan pernah meremehkan medan gunung Bondang. Medannya cukup terjal, ditambah kondisi hutan hujan yang membuatnya selalu lembab dan becek. Belum lagi pacet dimana-mana, tetap waspada adalah kunci kita tetap bisa selamat. Semakin tinggi vegetasinya mulai penuh dengan lumut, bahkan lumut tersebut bisa diperas airnya untuk diminum. Ada hewan semacam udang pula yang hidup didalam lumut-lumut pohon tersebut, keren tapi ingat untuk tetap waspada.

Source https://yuliantoreturn.wordpress.com https://yuliantoreturn.wordpress.com/2014/02/24/gunung-bondang-expedition-sebuah-dongeng-dari-suku-dayak-siang-part-3-dongengnya-gunung-bondang/
Comments
Loading...