Gereja Masehi Injil di Minahasa (GMIM) : Tempat Wisata Religi di Kota Manado

0 36

Gereja Masehi Injil di Minahasa

Manado adalah kota wisata yang memiliki banyak tempat yang penuh kisah dan cerita menarik. Wisata alam, budaya, sejarah, kuliner, dan religi, semuanya tersedia. Salah satunya Gereja Masehi Injil di Minahasa (GMIM). Gereja yang sering disebut juga Gereja Sentrum Manado ini merupakan Gereja tertua di Kota Manado. Berdiri tahun 1677, usianya telah mencapai ratusan tahun dan kini menjadi salah satu situs sejarah religi di Manado.

Dulu namanya bukan Gereja GMIM Sentrum, tetapi Gereja Besar (Oude Kerk) Manado sebagaimana ditulis Nicolaas Graafland. Kata ‘Sentrum’ sendiri digunakan setelah kemerdekaan. Pada saat itu, GMIM Sentrum di bawah binaan Indische Kerk atau Gereja Negara. Dengan demikian, saat itu gaji Pendeta dibayar oleh negara.

Namun, kehidupan rohani yang dikuasai oleh negara menimbulkan ketidakpuasan, sehingga mendorong lahirnya KGPM pada tahun 1933 sebagai jawaban atas pemisahan Gereja dari negara. Pada masa Indische Kerk, pelayanan administrasi Gereja di Minahasa dan Bitung berpusat di Manado. Kemudian sejak 30 September 1934, Gereja Protestan di Manado, Minahasa dan Bitung dinyatakan berdiri sendiri dengan sebutan Gereja Masehi Injili di Minahasa (GMIM). Kedudukan kantornya pun tidak lagi di Manado, tapi dipindahkan ke Tomohon.

Tercatat Ketua Sinode GMIM pertama adalah Pdt. Dr. E.A.A de Vreede, seorang Belanda yang memimpin satu tahun dari 1934. Kemudian selang beberapa waktu, kepemimpinan beralih ke Albertus Zacharias Roentoerambi Wenas sejak 1942.  Ia merupakan orang Minahasa pertama yang menjabat sebagai Ketua Sinode GMIM.

Bangunan GMIM Sentrum terletak sekitar 100 meter dari eks pasar 45 atau bendar Manado, persisnya terletak di depan Gedung Juang 45 Manado. Dari titik nol (Zero Point) yang merupakan patokan untuk perhitungan jarak dari Manado ke Bitung, Tondano, Tomohon, Amurang dan ke kabupaten/kota lainnya, jaraknya sekitar 90 meter.

Gereja ini pun pernah beralih fungsi. Pada masa pendudukan Jepang, gedung Gereja tua ini pernah menjadi markas Manado Syuu Kiri Sutokyop Kyookai (MSKK) yang dipimpin Pdt. Hamasaki yang berkebangsaan Jepang. Sementara pada Perang Dunia II, Gereja ini hancur dibom. Untuk mengenangnya dibangun Tugu Perang Dunia II yang lokasinya persis berada di samping kiri pintu gerbang Gereja.

Pada tahun 1952, Gereja yang merupakan artefak budaya ini dibangun kembali dan ditahbiskan 10 Oktober 1952. Bangunannya bercorak khas Gereja Protestan di Belanda yang berbentuk persegi sebagai simbol empat penjuru mata angin. Pada tahun 1983-1992, jemaat GMIM Sentrum Manado memiliki 47 kolom dan 4 kanisah. Keempat kanisah tersebut adalah Petra, Zaitun, Betania dan Karmel.

Bangunan GMIM Sentrum Manado telah beberapa kali direnovasi dan mengalami perubahan. Posisi mimbar yang sebelumnya menghadap ke utara dipindahkan dari utara menghadap ke timur, namun keaslian dinding dan pilarnya tetap dipertahankan. Dengan statusnya sebagai pusat kegiatan keagamaan dan objek wisata religi, GMIM telah banyak didatangi para turis. Ratu Beatrix dari Belanda dan suaminya, Pangeran Claus Van Amsberg, pun pernah mengunjungi Gereja di ibukota Sulawesi Utara ini tahun 1995.

Source http://baghumaspromanado.tribunnews.com http://baghumaspromanado.tribunnews.com/2015/06/11/menengok-gereja-masehi-injil-di-minahasa-gmim-kota-manado
Comments
Loading...