Desa Wisata Poncokusumo, Malang

0 47

Desa Wisata Poncokusumo

Poncokusumo merupakan daerah penghasil apel yang kualitasnya tidak kalah dari apel Batu. Bahkan secara kuantitas, hasil produksi apel di Poncokusumo lebih banyak daripada dari Kota Batu. Desa Poncokusumo dicanangkan sebagai desa wisata pada tanggal 27 Mei 2001 oleh Bupati Malang Ir. Moch. Ibnu Rubianto, setelah Batu berdiri sebagai kota tersendiri lepas dari Kabupaten Malang. Pemerintah Kabupaten Malang memang menjadikan Desa Poncokusumo sebagai pusat agropolitan dan tujuan wisata di sektor pertanian, terutama buah apel yang cukup terkenal. Dari Kota Malang, Poncokusumo berjarak sekitar 32 kilometer menuju arah timur dan dapat ditempuh dengan menggunakan kendaraan umum yang ongkosnya relatif murah. Dari Terminal Arjosari, Kota Malang, Anda bisa menggunakan sarana angkot ke Tumpang, selanjutnya berganti angkot untuk sampai di Poncokusumo.

   

Poncokusumo sebagai daerah penghasil apel dan agrowisata memang belum banyak diekspos. Saat ini pemerintah Kabupaten Malang berusaha memaksimalkan potensi wilayah Malang Timur dengan menjadikan kawasan ini sebagai pintu masuk wisata menuju Gunung Bromo yang merupakan ikon wisata Jawa Timur. Daerah Poncokusumo merupakan kawasan tujuan obyek wisata baru dalam bidang agrobisnis. Terdapat kurang lebih tujuh desa di Kecamatan Poncokusumo yang membudidayakan apel sebagai komoditas utama perkebunan mereka. Selama beberapa tahun terakhir, banyak wisatawaan asing yang berkunjung ke Poncokusumo meski hanya untuk sekadar petik buah apel. Saat ini, sedikitnya 20 rumah warga sudah disulap untuk menjadi homestay (penginapan) bagi para wisatawan.

Desa Wisata Poncokusumo berada di lereng Gunung Semeru, tepatnya di sebelah selatan perbatasan Taman Nasional Bromo Tengger Semeru. Wilayah Poncokusumo, secara topografi tidak berbeda jauh dengan Kota Batu. Desa Poncokusumo memiliki kontur tanah yang berbukit-bukit dan berhawa dingin dengan hamparan kebun apel yang masih alami. Di wilayah ini, sebagian besar masyarakatnya hidup dari pertanian, baik itu apel hingga sayuran. Desa yang luasnya 686,2509 hektar itu terletak di ketinggian 926 mdpl (meter di atas permukaan laut) dengan temperatur rata-rata 22-26° C terasa asri dan menyejukkan. Suasana desa pun masih asri dan jauh dari polusi serta kebisingan kota. Di samping itu, warga desanya pun murah senyum serta ramah masih bisa terlihat di desa ini.

Sudah sejak tahun 1960-an penduduk Poncokusumo telah mengembangkan budidaya tanaman apel. Berbagai varietas apel yang ditanam di sini tumbuh dengan baik, mulai varietas lokal maupun impor di antaranya apel anna, manalagi, rome beauty dan wanly. Dari keempatnya, apel manalagi menjadi primadona dan banyak merebut pasar. Warnanya hijau kekuningan, rasanya pun segar dengan rasa manis cenderung lebih menonjol daripada rasa asamnya. Sebenarnya, tidak semua daerah di dataran tinggi Indonesia bisa ditanami apel, bahkan di Asia Tenggara. Di Indonesia hanya daerah tertentu saja yang cocok untuk pengembangan apel dan bisa menghasilkan produksi yang baik. Sebagai contoh di Pulau Jawa, itupun hanya di tiga daerah yaitu Batu, Poncokusumo, dan Nongkojajar di Pasuruan. Padahal banyak daerah yang mempunyai ketinggian tempat yang sama dengan daerah Poncokusumo ini, namun faktor suhu harus juga diperhatikan. Tanaman apel dapat tumbuh dengan baik apabila dataran tinggi itu mempunyai suhu 25-26° C dan curah hujan 1.500 ml per tahun. Sedangkan suhu minimum 18,1° C dan maksimum 24,8° C dengan bulan kering 3-4 bulan dan bulan basah 6-7 bulan per tahun dengan kelembaban relatif 80-85 %.

Selain sebagai penghasil buah apel, Desa Poncokusumo merupakan desa yang kaya akan produksi holtikultura, seperti bawang, tomat, kentang, kol serta buah-buah lainnya. Di Poncokusumo ini selain didukung alamnya yang subur serta hawa yang sejuk, juga memiliki daya tarik wisata yang beraneka ragam seperti pengolahan sari apel, agro bunga krisan, outbound, dan aneka kesenian daerah. Warganya juga mengembangkan hasil perkebunannya menjadi produk olahan seperti keripik apel, salak, jambu dan lain-lain yang dikerjakan secara home industry.

Banyak yang berkunjung untuk melihat proses pembuatan keripik apel itu. Sedangkan produk minuman sari apel dalam kemasan dari Desa Poncokusumo telah dipasarkan di kota-kota besar di Jawa Timur. Desa Poncokusumo juga sering dikunjungi lembaga pendidikan untuk melakukan riset tentang agro. Tidak hanya kawasan petik apel yang memiliki lokasi pengembangan sekitar 859 hektare, yang bisa Anda datangi. Namun, potensi agrowisata lainnya pun bisa didapati di lokasi ini. Potensi lain yang saat ini mulai dikembangkan adalah wisata petik buah blimbing. Wisata ini berada di Desa Argosuko dengan luas area lahan sekitar 15 hektar. Bahkan, secara langsung untuk pengembangannya dikelola oleh kelompok tani setempat.

Wisata petik buah lainnya yang bisa dijadikan jujugan, yakni buah jeruk. Wisata ini berada di wilayah Desa Karanganyar, dengan menyediakan sedikitnya 20 hektare lahan untuk petik buah tersebut. Bahkan, dari pengembangan itu pula, beberapa pasar lokal pun dijadikan sasaran pemasaran dari petik buah itu. Buah lain yang bisa dinikmati di kawasan Poncokusumo, yakni wisata petik buah kelengkeng. Terdapat sedikitnya lima desa yang melakukan pengembangan perkebunan buah kelengkeng di antaranya, selain Desa Poncokusumo sendiri, ada Desa Ngadireso, Desa Pandansari, Ringinanom dan Desa Karangnongko. Khusus untuk petik kelengkeng di Poncokusumo, kawasan terbesar berada di Desa Ngadireso.

Di lokasi ini sedikitnya sekitar 7,9 hektare kawasan lahan yang digunakan untuk memaksimalkan buah tersebut. Yang sangat menarik dari agrowisata di Poncokusumo adalah pengembangan bunga seruni atau dikenal juga sebagai bunga krisan yang dapat ditemui di lokasi tersebut. Memanfaatkan pengembangan lokasi di Desa Poncokusumo dan Pandansari, ada sedikitnya 5 hektare lahan yang dioptimalkan. Selain untuk memenuhi permintaan dari Malang sendiri, pangsa pasarnya juga sampai ke Pulau Bali. Bunga krisan yang beraneka warna di Desa Poncokusumo ini dapat tumbuh sepanjang tahun.

Source http://ngalam.id http://ngalam.id/read/3571/desa-wisata-poncokusumo/
Comments
Loading...