Desa Adat Sijunjung Sijunjung Sumatera Barat

0 15

Desa Adat Sijunjung

Desa Adat Sijunjung terletak di Desa Koto Padang Ranah dan Tanah Bato, Kecamatan Sijunjung, Kabupaten Sijunjung, Sumatera Barat, untuk menuju kesana Jalan berliku di kaki Bukit Barisan merupakan salah satu jalur utama. Desa ini berjarak sekitar 110 kilometer dari pusat Kota Padang, diperkirakan lamanya sekitar 4 jam perjalanan darat. Lokasinya hanya berjarak sekitar beberapa kilometer dari pusat kota, Muaro Sijunjung, yakni sekitar 15 menit perjalanan dari kantor bupati Sijunjung.

Jembatan sepanjang 200 meter yang membentang di Batang Sukam menjadi pintu masuk ke Desa Adat Sijunjung. Patung perempuan berpakaian adat yang menjunjung bekal setinggi sekitar empat meter sebagai pertanda memasuki perkampungan adat. Sedikitnya terdapat 251 Kepala keluarga dengan total 705 warga, mayoritas warganya bertani. Mereka menanam sayur, padi, tanaman keras seperti karet, kelapa, kopi, dan cokelat.

Sejarah Desa Adat Sijunjung

Kebuntuan terkait nama Kampung terjawab saat suara perempuan minta tolong yang memecah keheningan. “Suara itu berasal dari tepi Sungai Mananti.” Tak satu pun yang mampu menyelamatkan perempuan yang terjepit dihimpitan batu. Perempuan ini dikenal dengan Si Niar, nama kebangsawanannya Puti (Putri) Junjuang. Hanya Syech Amaluddin berhasil membebaskan Puti Junjuang yang saat itu sedang terjepit.

Peristiwa itu yang kemudian menjadikan Ninik Mamak (tokoh adat) sepakat menamakan daerah ini dengan Sijunjuang. Puti Junjuang itu yang hingga dibuatkan patungnya.

Sistem Matrilineal Desa Adat Sijunjung

Dalam sistem matrilineal Minangkabau, laki-laki sama sekali tidak dapat mewariskan hartanya. Kalau ia meninggal harta itu akan kembali kepada orangtua perempuannya atau kepada adik dan kemenakan perempuannya. Kecuali harta mata pencahariannya boleh diwariskan ke anak-anaknya.

Rumah Gadang Desa Adat Sijunjung

Rumah Adatnya, rumah gadang bentuknya bagonjong, merupakan salah satu arsitektur rumah adat yang dimiliki Minangkabau. Cirinya adalah bentuk atapnya melengkung seperti tanduk kerbau.

Yang unik di Desa ini rumah Gadang hanya berjumlah 76 rumah, tetap, bertahan sejak tahun 1950-an–lima tahun pasca Soekarno-Hatta membacakan teks Proklamasi di Lapangan Merdeka, ribuan kilometer dari Sijunjung, hingga kini.

Karena untuk menambah rumah Gadang, tidak mudah, harus ada persetujuan pangulu (penghulu) yang disepakati melalui rapat adat.

Rumah gadang dimiliki anggota keluarga garis keturunan perempuan secara bersama-sama. Kalau hendak dijual semua anggota keluarga yang memiliki harus mufakat bulat, satu saja yang keberatan maka tak boleh dijual. Karena itulah belum pernah ada rumah gadang yang pernah terjual.

Rumah gadang didiami oleh mereka yang segaris keturunan. Dalam bahasa minangnya adalah; saparuik (dari satu perut). Ayah atau suami ibu tidak termasuk anggota keluarga di rumah gadang istrinya, tetapi anggota keluarga dari rumah gadang ibunya. “Rumah gadang adalah simbol budaya matrilineal Minangkabau”.

Seni dan Budaya Desa Adat Sijunjung

Jorong Koto Padang Ranah dan Tanah Bato adalah sebuah kawasan yang menjadi refleksi kehidupan masyarakat Nagari Sijunjung dalam bidang Sosial Kemasyarakatan, Ekonomi, Seni dan Budaya diwujudkan kedalam bentuk Aktivitas-aktivitas rutin seperti : Batagak Gala, Nikah Kawin, Basiriah Tando, Mambantai Adat, Batobo Kongsi, Marancah, Bakaua Adat. Semua prosesi tersebut dilaksanakan di Desa adat nagari Sijunjung.

Source https://gpswisataindonesia.wordpress.com https://gpswisataindonesia.wordpress.com/2016/08/09/desa-adat-sijunjung-sijunjung-sumatera-barat/
Comments
Loading...