Balairung Sari Tabek

0 16

Terletak sekitar 14 Km dari Kota Batusangkar, tepatnya di Nagari Tabek, Kecamatan Pariangan, Kabupaten Tanah Datar. Terdapat bangunan cagar budaya yang dianggap sebagai prototipe atap bagonjong yaitu Balairung Sari Tabek.

   

Sampai di kompleks Balairung Sari Tabek, kami tidak dikenakan tiket masuk alias gratis. Kami pun segera menjelajahi seluruh isi kompleks ini untuk mengetahui sejarah dari bangunan ini dan kebetulan sekali pada saat kedatangan kami sedang ada seorang juru pelihara yang saat itu sedang bersih – bersih, kedatangan kami disambut olehnya yang kemudian menceritakan tentang keberadaan Balairung Sari ini.

Dari informasi yang berkembang di masyarakat, yang menjadi arsitek Balairung Sari adalah Tantejo Gurhano pada sekitar 300 tahun yang lalu. Bangunan ini dirikan dengan maksud  sebagai tempat bermusyawarah adat sebagai perkembangan  Medan nan Bapaneh.

Bangunan Balairung Sari terbentang dari utara ke selatan, dengan ukuran panjang 48,24 meter dan lebar 3,40 meter Bangunan terbuat dari kayu sedangkan untuk atapnya terbuat dari bahan ijuk. Bangunan ditopang dengan tiang kayu sebanyak 36 buah, setinggi 3 meter. Sedangkan tinggi panggung (lantai) adalah 1 meter.

Bangunan ini memanjang dan tanpa dinding, tujuan dibuat seperti ini adalah agar penghulu yang mengadakan rapat dapat diikuti oleh masyarakat umum seluas – luasnya. Lantai panggung dibuat merata dari ujung utara ke selatan, hal ini menandakan Balairung Sari Tabek bangunannya bercirikan sistem Bodi Caniago namun masyarakatnya tidak menganut sistem kelarasan tersebut, masyarakat Nagari Tabek menganut sistem lareh nan Bunta jadi mereka tidak menganut sistem kelarasan Bodi Caniago maupun Koto Piliang.

Jadi, pada zaman dahulu Pemimpin koto Piliang dan Bodi Chaniago ketika berdiskusi atau hendak bersidang memutuskan sesuatu dilakukan di Balairung Sari sebagai tempat yg paling netral. Hal ini menandakan bahwa, Balairung Sari Tabek merupakan wujud harmoni budaya bermusyawarah masyarakat Minangkabau.

Keunikan bangunan ini yaitu terletak pada lantainya yang terputus dan tidak menyambung dengan lantai ruang berikutnya. Dengan demikian seolah – olah lantai bangunan ini terbagi dalam dua sisi, yaitu sisi utara dan sisi selatan. Bagian tengah yang terputus ini disebut dengan Labuah Gajah, yang berfungsi sebagai tempat lewatnya kendaraan raja – raja. Di bagian belakang Balairung terdapat sebuah kolam yang besar, yang dulunya hanya berukuran kecil yang dimanfaatkan sebagai tempat mencuci kaki.

Hingga saat ini, Balairung Sari masih dipakai sebagai tempat musyawarah adat, selain itu tempat ini juga sering dijadikan sebagai tempat bermain bagi anak – anak setempat, seperti yang kami lihat saat itu banyak sekali anak – anak yang bermain usai pulang sekolah. “kalo sore lebih ramai lagi anak – anak yang bermain” kata sang juru pelihara.

Source https://www.jelajahsumbar.com https://www.jelajahsumbar.com/balairung-sari-tabek/
Comments
Loading...